As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.

Psalms 103:15-16; KJV

Showing posts with label janji. Show all posts
Showing posts with label janji. Show all posts

02 October 2013

Faith. Tiba-tiba ide muncul ...


"I can feel the magic floating in the air. Being with you gets me that way."  
(Faith Hill; Breathe, 1999)

Jika ada orang yang bernama Faith, saya cenderung memikirkan Faith Hill, penyanyi country Amerika yang melagukan "Breathe". Ternyata nama itu pun saya jumpai juga dalam pelayanan di Gratia Bekasi.

Pada hari Minggu, 29 September 2013 lalu, Dr. David Tumampas menghubungi saya. Keluarganya akan mengadakan ibadah syukur untuk puteri mereka yang akan genap berusia 2 tahun. Namanya Faith.

Maya menyarankan, walaupun hanya diminta doa, sebaiknya tetap disiapkan saja lembaran tata ibadahnya sebagaimana biasanya. Ketika lembaran tata ibadah itu selesai, saya membuat doodle di sekitarnya. 

Nama Faith, yang berarti iman, memberi gambaran pada saya tentang yang seharusnya dipahami oleh setiap orang beriman. Pemahaman itu menjadi elemen dalam gambar yang mengitari muatan unsur dalam ibadah tersebut.

Elemen yang saya munculkan adalah ombak, perahu dan burung merpati dengan daun di paruhnya yang memiliki makna yang sama dengan simbol Minggu-minggu sesudah Pentakosta seperti yang diberlakukan di jemaat-jemaat GPIB. 

Saya sengaja membuat orang itu tersenyum di atas perahu yang diangkat oleh ombak. Saya membayangkan para peselancar menikmati ombak sebagai sahabatnya. Seharusnya bagi setiap orang beriman, pergumulan adalah sahabat yang membantu menguatkan iman itu sendiri. Bagaimana kita mengetahui, bahwa iman kita kuat, jika tidak menghadapi pencobaan?

Elemen yang lain adalah buah anggur. Orang yang menyatakan iman dengan sungguh-sungguh dalam hidupnya, akan menghasilkan buah, menjadi berkat Tuhan bagi kehidupan di sekitarnya.

Elemen-elemen lain lagi yang saya tambahkan adalah awan, domba, bunga-bunga dan daun-daun.

21 September 2012

Aku menguduskan dan menetapkan engkau ...



"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, 
Aku telah mengenal engkau, 
dan sebelum engkau keluar dari kandungan, 
Aku telah menguduskan engkau, 
Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
(Yeremia 1:5; Alkitab TB, © Lembaga Alkitab Indonesia 1974)

Yang dengan mudah saya ingat tentang Yeremia, salah satunya, adalah penolakannya terhadap panggilan Tuhan untuk menjadi nabi. Alasan yang dipakai oleh Yeremia adalah tidak pandai berbicara karena masih muda. Sebenarnya itu dua alasan, tidak pandai berbicara dan masih muda.

Penolakan dengan alasan yang sama dengan yang dipakai oleh Yeremia pun kita jumpai dalam kehidupan bergereja. Pada tahun 2012 ini jemaat-jemaat GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) melaksanakan pemilihan untuk 5 tahun pelayanan, 2012-2017.

Ketika Tuhan telah menetapkan Yeremia, maka ketetapan itu harus dilaksanakan. Bahkan Tuhan telah menetapkan sebelum Yeremia menjadi nabi-Nya sebelum Yeremia dilahirkan. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu pun berlaku bagi kita juga. Ketika Tuhan telah meminta kita menjadi pelayan-Nya, seharusnya, oleh karena kasih karunia-Nya, kita tidak bisa menolak.

Kita pasti akan menemui tantangan. Demikian juga yang dialami oleh Yeremia kemudian. Tapi ada janji Tuhan yang harus diingat oleh Yeremia dan kita semua.

"Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."
(Yeremia 1:8)

----------

Gambar di atas berangkat dari renungan untuk Ibadah Hari Minggu XVII sesudah Pentakosta, 23 September 2012 di jemaat-jemaat GPIB. Renungan berdasarkan Yeremia 1:4-8. 

Jika kita membaca Yeremia 1, maka kita akan mengetahui, bahwa ada Yeremia mendapat dua penglihatan. Yang pertama adalah sebatang dahan pohon badam (ay. 12); yang kedua adalah sebuah periuk yang mendidih (ay. 13).

Rasanya saya belum pernah melihat buah badam dijual di pasar. Namun jika Anda menikmati sepotong coklat Silverqueen Almond, maka Anda sedang menikmati potongan-potongan kecil buah badam yang tertanam di potongan coklat itu.

Sebatang dahan pohon badam dan sebuah periuk menjadi penglihatan bagi Yeremia untuk tugas awal kenabiannya. Keduanya dicantumkan dalam gambar di atas bersama dua ornamen yang lain, anggur dan pintu gerbang.

Dalam beberapa penyampaian firman-Nya Tuhan memakai anggur - buah anggur, pokok anggur dan kebun anggur - sebagai perumpamaan.

Pintu gerbang dipakai oleh Tuhan sebagai media penyampaian firman-Nya. Dalam beberapa perintah-Nya Yeremia disuruh pergi ke pintu gerbang dan menyampaikan firman-Nya. Saya meletakkan pintu gerbang di tengah. Hal ini mengingatkan saya bahwa ketika kita hendak melakukan segala sesuatu, maka kita harus memulai dengan ingatan pada kehendak Tuhan. Alasan ini, menurut saya, yang menyebabkan Yeremia harus berdiri di depan pintu gerbang 
(7:2; 17:9; 22:2; 36:10).

Bayi dalam gambar di atas dapat kita hubungkan dengan firman Tuhan kepada Yeremia (1:5). Namun, bagi saya, ada perasaan yang ajaib. Ketika gambar ini dibuat kami sedang menantikan kelahiran anak kami yang ketiga yang sudah tidak dalam hitungan bulan lagi. 

"Tuhan, tinggal beberapa minggu lagi ..."  :)

-----
-----

Non mortui laudabunt Dominum
  • Gambaran tentang Yeremia 1:4-13; technical pen dan marker


05 August 2012

Minggu-minggu sesudah Pentakosta


"Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, 
bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan ..." 
(Kejadian 9:11; Alkitab TB, © Lembaga Alkitab Indonesia 1974)

Semula perahu menjadi salah satu simbol gereja. Gereja perdana yang mengalami penghambatan dan penganiayaan pada masa itu memiliki pengharapan yang kuat pada penyertaan Allah dalam setiap badai pergumulan.

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) mengambil simbol perahu ini untuk digunakan dalam Ibadah-ibadah Minggu sesudah hari raya Pentakosta. Simbol ini akan terus terpampang di mimbar dan stola para presbiter yang bertugas dalam Ibadah Minggu hingga minggu kelima sebelum Natal, sebelum memasuki masa raya Advent. Penggunaan simbol ini telah ditetapkan dalam Persidangan Sinode GPIB di Ujung Pandang pada tahun 1990.

Simbol perahu yang digunakan oleh gereja perdana semakin memerlihatkan pergumulannya dengan penggunaan ombak yang tinggi. Namun tidak hanya mengingatkan pada pergumulannya, GPIB mengingatkan pada janji penyertaan Allah melalui penggunaan pelangi dan burung merpati yang menggenggam ranting zaitun.

Burung merpati yang membawa sehelai daun zaitun dan busur pelangi mengingatkan pada janji Tuhan untuk umat manusia yang disampaikan-Nya kepada Nuh setelah peristiwa air bah sebagaimana yang tercatat di dalam Kejadian 8:10-11; 9:12-16.

Saya tidak tahu, kenapa GPIB menggunakan dalam simbol itu ranting zaitun berdaun banyak, padahal kesaksian Alkitab adalah "pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar" (Kej 8:11).

Saya membuat gambar di atas berdasarkan simbol Minggu-minggu sesudah Pentakosta yang digunakan oleh jemaat-jemaat GPIB. Perupaan yang saya lakukan adalah membuat simbol itu menjadi lebih hidup, bagaikan sebuah rekaman peristiwa secara kartunal. 
Selama beberapa minggu simbol ini menjadi sampul depan Warta Jemaat di GPIB Jemaat "Gratia" Bekasi.

Selamat memasuki seluruh badai pergumulan yang menghampiri kita dengan keyakinan bahwa Tuhan, Allah yang maha kuasa, selalu menyertai kita sebagaimana janji-Nya yang tidak pernah diabaikan ... 

Non mortui laudabunt Dominum
  • Kapal, ombak, pelangi dan burung merpati berdaun zaitun; pen dan marker


03 January 2012

Membuka Pintu


‎"Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, 
janganlah suruh kami berangkat dari sini." 
(Keluaran 33:15; Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI)


[1.]


Ketika mendekati akhir tahun, beberapa orang telah mencoba memikirkan, apa yang akan terjadi di tahun yang akan datang? Hasilnya adalah sikap optimis atau pesimis. Beberapa lagi malah memiliki rasa takut. 

Musa pun sempat diliputi keraguan, ketika Tuhan menetapkannya sebagai pemimpin yang membawa bangsa Israel berangkat ke tanah yang telah dijanjikan-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Kutipan di atas merupakan kata-kata Musa kepada Tuhan, ketika Tuhan menyuruhnya berangkat dari Gunung Sinai. Karena ucapan tersebut, Tuhan memberikan tanda kepada Musa, kemuliaan-Nya melewati Musa (Kel. 33:21-23).

Memasuki tahun baru 2012 ini sebenarnya ada banyak tanda yang dapat kita pakai untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada tahun 2012 dan seterusnya. Yang pasti, jauhkanlah pikiran kita dari 'ramalan suku Maya' itu, bahwa 2012 tidak akan pernah sampai di tanggal 31 Desember. Namun dari pada kita memikirkan hal-hal yang akan terjadi pada tahun 2012, apa lagi yang menakutkan, lebih baik kita cukup menyadari dan memahami, bahwa tahun 2012 itu akan ada pergumulan dan juga penyertaan Tuhan. Saya mencitrakan kesadaran tersebut dengan pelangi di balik awan, ular, batu-batu, sulur tanaman dan bunga-bunga.

Jadi, lebih baik bagi kita untuk memasuki tahun 2012 ini dengan keteguhan dan penyerahan diri kepada kasih karunia Tuhan Allah.

[2.]

Vianca, yang sebentar lagi akan berumur 4 tahun, menyuruh saya mewarnai banyak sekali obyek dalam gambar itu dengan warna-warna pilihannya. Kata Vianca, "(Warna) tangannya seperti Vianca." Dari situ berlanjut dengan pewarnaan obyek yang lain. Vianca tidak hanya terpaku pada satu dua warna yang itu-itu saja. Untuk warna daun saja, dia telah memilih beberapa warna hijau ... :)

"Iya, hidup ini memiliki banyak pilihan yang membuat segala sesuatunya lebih berwarna ..."
  • Membuka Pintu; pen, marker, Photoshop CS5


Non mortui laudabunt Dominum ...

19 July 2010

Hanya membagi mimpi di atas bantal ...

Send me the pillow that you dream on
so darling, I can dream on it too …

Lagu itu keluar dari speaker yang ada di atas meja komputer. Hank Locklin adalah penyanyinya. Jadul. Benar-benar jadul habis.

Pada malam seperti ini, bagi Dia, lagu itu akan menggerakkan otak kirinya dalam sebuah perasaaan yang mendalam. Di situ tersimpang berjuta benih imajinasinya. Dia mengingat kembali pada orang yang dikasihinya, yang dia yakini sedang tertidur lelap. Lelap selelap-lelapnya.

Tidak lama kemudian, hanya dalam sebuah kedipan mata, perasaan itu merujuk pada satu hal. Kerinduan. Di tengah kerinduannya dia ingin memeluk bantal yang sedang menggeletak membusungkan permukaannya. Memeluk dengan erat. Seerat-eratnya.

Di tempat lain, ada banyak bantal sedang tidak menjadi media untuk menyalurkan kerinduan. Mereka sedang menjadi media pelepas lelah setelah pemeluknya disibukkan berbagai aktifitas di sepanjang siang, bahkan mungkin hingga malam.
Sementara itu, bagi seorang anak lelaki manja yang sedang dalam pelarian, jangan harap dia akan menemukan bantal yang empuk bagi kepalanya untuk berbaring. Anak lelaki itu dikepung dengan kelelahan, kebingungan, kehilangan, ketakutan, entah apa lagi stow. Rasanya ketiganya itu yang lebih menonjol di setiap guratan wajah dan hembusan nafasnya.
Baru beberapa jam yang lalu dia mendapatkan ucapan berkat dari bapaknya. Sebenarnya itu bukan untuk dirinya. Seharusnya yang menerima ucapan berkat itu adalah kakak kembarnya. Sehingga dia pun harus menanggung akibatnya. Menjadi pelarian. Menghindar dari murka amarah kakaknya, yang adalah seorang pemburu yang hebat.
Ah, sudahlah. Semua sudah terjadi. Sekarang anak lelaki yang dimanja oleh ibunya itu berada di tengah kegelapan malam di tengah padang belantara. Dia ingin melepas lelah raga dan pikirannya. Bantal. Hanya sebuah bantal. Namun tidak ada. 
Ya, sudahlah … batu pun diambil menjadi bantalnya.
Dari speaker lagu itu masih mengalun. Sangat syahdu di tengah malam yang dingin.

Each night while I’m sleeping on so lonely
I’ll share your love in dreams that once were true …
Bagi anak itu, Sang Pelarian, mimpinya akan indah sekali. Para malaikat akan turun dari sorga. Berjalan di atas tangga sorgawi yang ujung satunya menjejak di bumi. Tempat di mana anak itu berbaring. Selanjutnya, sebuah janji ilahi disampaikan.
Bagi Dia, mimpi diinginkannya malam ini hanyalah harapan-harapan dalam kehidupannya. Harapan yang lebih baik lagi dari kenyataan hidup sekarang. Walaupun Dia tahu, bahwa Dia tidak bisa mengaturnya demikian. Entahlah, mungkin Mimpi memiliki kehendak sendiri.

Tapi bukan itu yang ingin dipusingkannya malam ini. Cukup telinganya saja. Menikmati lagu itu.

Send me the pillow …

“Sesungguhnya 
Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, 
ke mana pun engkau pergi, … 
sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, ..." 
(Kejadian 28:15)