As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.

Psalms 103:15-16; KJV

Showing posts with label belajar. Show all posts
Showing posts with label belajar. Show all posts

20 October 2013

Dari mendengar hingga percaya ...



“Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku. Karena menyimpannya dalam hati akan menyenangkan bagimu, bila semuanya itu tersedia pada bibirmu.”  (Amsal 22:17-18)

[1.]

Memercayakan hidup pada Tuhan merupakan respon atas iman kepada Tuhan. Keimanan itu muncul dari pengenalan. Proses pengenalan itu sendiri dapat terjadi melalui pengajaran yang disampaikan kepada yang bersangkutan.

Pengajaran yang telah diterima, bila diperhatikan dan direnungkan, akan membawa kesenangan tersendiri. Bagi saya kesenangan itu adalah kebahagiaan surgawi yang menjadi akhir perjalanan iman kita.

[2.]

Memercayakan diri berarti penyerahan diri dalam kekuasaan Tuhan. Saya membayangkan seseorang yang sedang berbaring  di atas awan kemuliaan Tuhan sebagai tanda penyerahan itu.

Amsal 22:17,18 menggambarkan telinga sebagai tempat masuk pengajaran dan hati adalah tempat pengajaran itu bersarang. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata 'labe' yang berarti 'hati'. Pengajaran itu menjadi perhatian; per-'hati'-an, merujuk pada keadaan yang telah di-'hati'-kan. Dari hati pengajaran itu berlanjut lagi dalam kehidupan kita.

Kitab Amsal memberikan kesaksian bahwa sikap kita pada Tuhan yang diwarnai dengan rasa hormat menjadi sarana kehadiran pengetahuan itu (lih. Amsal 1:7). Itu sebabnya saya menggambarkan awan - yang sering dipakai sebagai simbol kehadiran Tuhan - sebagai asal aliran pengetahuan yang murni.

Dalam proses dari pendengaran hingga menjadi perbuatan ada tuntunan Roh Kudus - yang dilambangkan dengan burung merpati. Ada keluwesan dalam tuntunan Roh Kudus. Roh Kudus dapat menuntun dengan cara apa pun yang dikehendaki Tuhan Allah. Saya menggambarkan dengan manuver terbang merpati yang tidak lazim itu.

Non mortui laudabunt Dominum

  • Dengar, perhatian, percaya, ...; Uni Pen dan Sharpie di kertas Windsor & Newton A4, Photoshop CS5

29 September 2013

Doodle 01. Belajar ... belajar ... belajar!


Saya sedang tertarik melihat doodle. Ada rasa nikmat ketika melihat doodle-doodle di mesin pencariannya Google.

Sebenarnya doodle bukan hal baru bagi kita. Ketika kita sedang mengikuti pelajaran di kelas atau mengikuti pembinaan suatu instansi, lalu kita bosan mendengar kata-kata guru atau pembina, kadang-kadang kita mengusir kebosanan dengan mencoret-coret tepi buka teks atau lembaran makalah kita. Coretan-coretan di tepi buku atau lembar makalah itu disebut doodle.

Beberapa orang telah membuat doodle menjadi sebuah karya seni yang menarik. Doodle tidak lagi menjadi gambar gak jelas yang dibuat karena sedang bete. Doodle mulai digarap dengan serius, dibuat sambil dinikmati dan direnungkan.

Saya mencoba membuat doodle. Gagasan yang menjadi benang merah dari semua elemen itu adalah perlengkapan belajar. Bagi saya proses belajar yang berangkat dari pengenalan kepada Tuhan akan mengarahkan kita pada proses belajar yang menuntun tidak saja pada pengembangan kognisi kita, tetapi juga kedewasaan sikap kita dalam hidup.

Saya membuat doodle di buku catatan. Halaman di sebelah kiri saya tutup dengan Moleskine, bukan karena diarahkan demikian, tetapi karena isinya adalah hasil pertemuan di tempat kerja, notulen rapat. Dalam catatan rapat itu pun ada doodle-nya. Termasuk doodle dari tempat pelaksanaan pertemuan.

Pertama kali saya memuat gambar di atas adalah di blog Tumblr saya.

Non mortui laudabunt Dominum
  • Doodle - Belajar; marker Sharpie.