As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.

Psalms 103:15-16; KJV

Showing posts with label uni pin. Show all posts
Showing posts with label uni pin. Show all posts

22 May 2014

Ketakutan itu berasal dari kita sendiri ...


"A strange or horrible imaginary creature."
(www.merriam-webster.com/dictionary/monster)

[1.]

Menggambar monster itu menyenangkan. Karena monster itu hanya makhluk khayalan. Tidak seorang pun yang dapat memastikan bentuknya. Setiap orang akan menginterpretasikan monster itu dengan caranya sendiri lalu menuangkannya dalam karya masing-masing. Interpretasi dan khayalan membuat proses menggambar monster itu menyenangkan.

Setiap orang yang ingin menggambarkan monster akan membiarkan daya khayalnya. Tidak jarang gambaran itu terbentuk dari berbagai makhluk hidup yang dijumpai sehari-hari yang disatukan dalam satu bentuk. Tidak jarang juga gambaran itu dibentuk dengan cara menambahkan dan mengubah bagian-bagian tubuh yang dimiliki oleh makhluk hidup yang sebenarnya. Benar-benar permainan imajinasi.

[2.]

Tiba-tiba saya ingin menggambar monster. Beberapa monster. Saya ingin menggambar tentang ketakutan, perasaan yang dimiliki oleh setiap orang. 

Bagi saya, ketakutan itu seperti kita memasuki sebuah mimpi buruk. Ada saatnya mimpi itu berakhir dan semua yang buruk dalam mimpi itu hilang entah ke mana. Ketakutan itu pun pasti akan berakhir.

Yang mengherankan, saya pun mengalaminya, kita tetap membiarkan diri kita diliputi oleh ketakutan itu. Jangan-jangan sebenarnya ketakutan itu dibangun oleh pikiran kita sendiri. Jadi lucu, kita yang bangun pikiran yang menakutkan itu, lalu kita takut sendiri. Itu hebatnya rasa takut. Dia menjelmakan diri lebih besar dari kita, lalu mengurung kita di dalamnya. Karena kita sendiri.

Cuma satu jalan untuk menghadapi dan keluar dari rasa takut. Setiap orang yang terkurung dalam mimpi buruk tidak mampu keluar karena mereka tidak membiarkan diri menjadi berani. Kuncinya hanya memberanikan diri. 

[...]

Mungkin saya akan membuat monster-monster yang disebut dalam Alkitab. Nampaknya menyenangkan juga. Mungkin ...

17 May 2014

Menyanyi bersukacita karena Tuhan menjadi keselamatan ...


"TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku."
(Keluaran 15:2a)

[1.]

Menyanyi menjadi ungkapan syukur bangsa Israel setelah Tuhan menyeberangkan mereka melalui laut Merah yang telah terbelah. Mereka bersyukur karena Tuhan telah menyatakan kekuasaan dan kasih-Nya pada mereka.

Sebelum bangsa Israel menyeberangi laut Merah dengan cara yang ajaib itu, mereka berada dalam keadaan terjepit. Di belakang mereka pasukan Firaun telah mengepung mereka. Di depan mereka terbentang lautan. Bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri dari situasi itu? Jadi, tinggal menunggu dihancurkan dan mati?

Jawabannya ada pada Tuhan yang telah memimpin mereka dalam perjalanan keluar dari Mesir hingga akhirnya tiba di tepi laut. Dalam keadaan kalut mereka memarahi Musa. Musa menjadi tambah kalut. Tuhan pun menunjukkan kekuasaan-Nya. Tindakan ini mengingatkan bangsa Israel, bahwa Tuhan adalah Allah semesta alam, Pencipta dan Penguasa langit dan bumi.

Dalam kepemimpinan Tuhan dan tindakan-Nya tersebut, umat diingatkan bahwa Tuhan yang memimpin mereka adalah Tuhan yang tidak akan membiarkan umat yang dipimpin-Nya dihancurkan oleh siapa pun. Atas tindakan dan pemahaman itu, Musa dan orang Israel menyanyikan syukur dan pujian kepada Tuhan.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa kehidupan ini pun menjadi indah dengan segala pergumulan yang kita hadapi. Jika kita menjalankan kehidupan ini tanpa tantangan dan rintangan, apa yang dapat kita banggakan?

Dengan demikian kita membayangkan nyanyian mereka benar-benar dipenuhi perasaan sukacita, kegembiraan yang meluap. Waow!

[2.]

Saya menggambarkan peristiwa sukacita itu dengan gambar doodle. Ada umat yang bersukacita, ada pula Firaun yang akan tenggelam. Tindakan Tuhan yang memenangkan umat-Nya itu saya gambarkan sebagai peristiwa sukacita. Bukan hanya umat-Nya yang bersukacita. Alam pun turut bersukacita.

Matahari yang bersukacita menunjukkan kehadiran matahari itu sebagai ciptaan Tuhan, di bawah kekuasaan Tuhan. Ini menjadi pesan khusus. Bangsa Mesir kuno melihat matahari sebagai pemilik kehidupan; dewa Ra. Namun yang dipandang sebagai pemilik kehidupan itu tidak melakukan apa pun ketika Tuhan telah memutuskan umat-Nya harus selamat dari kejaran Firaun.

non mortui laudabunt Dominum

09 March 2014

Dicobai supaya kuat


"Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis." (Matius 4:1)

Cerita tentang pencobaan yang dialami oleh Yesus setelah berpuasa selama 40 hari dan 40 malam dapat kita jumpai dalam Injil Matius, Markus dan Lukas.

Injil Markus hanya memberitahukan, bahwa Yesus dicobai oleh Iblis. Tidak menceritakan pencobaan yang dialami-Nya. 

Injil Lukas menceritakan pencobaan yang dialami Yesus. Iblis menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti untuk memenuhi kelaparan-Nya. Lalu Iblis menyuruh Yesus sujud menyembahnya untuk mendapatkan kekuasaan atas kerajaan-kerajaan di dunia ini.  Yang terakhir, Iblis menyuruh Yesus menjatuhkan diri dari atap bait Allah. Toh, nanti malaikat Tuhan akan menatang-Nya.

Injil Matius menceritakan pencobaan yang dialami oleh Yesus dengan urutan yang berbeda dengan Injil Lukas. Urutannya adalah mengubah batu menjadi roti, menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah di Yerusalem, dan, yang terakhir, ajakan menyembah Iblis.

Injil Matius memberikan keterangan yang menarik; "Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis."  Kalimat pembuka ini mengingatkan kita semua, bahwa di setiap pencobaan yang kita alami, ada kemungkinan bahwa Tuhan bersikap membiarkan kita dicobai.

Tuhan membiarkan kita dicobai, membawa kita ke 'padang gurun' pencobaan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang beriman kuat.

Jika demikian, kita memasuki pencobaan yang kita alami dengan keyakinan iman, bahwa Tuhan yang membawa atau membiarkan kita dicobai tidak akan meninggalkan kita.

[...]

(Uraian di atas menjadi materi khotbah Ibadah Minggu VI Prapaskah, 9 Maret 2014.)

non mortui laudabunt Dominum

22 February 2014

Keteguhan di hadapan hati yang hancur ...



"Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku." (Rut 1:16)

[1.]

Menurut Naomi, hidupnya sudah hancur. Dia tidak memiliki apa pun untuk meneruskan kehormatan keluarganya dan kehormatan nama suaminya, Elimelekh.

Ketika Naomi dan Elimelekh pindah dari Betlehem ke Moab bersama kedua anak mereka, Mahlon dan Kilyon, mereka berharap kehidupan yang lebih baik lagi. 'Rumah roti', tempat asal Naomi dan suaminya, tidak bisa diharapkan lagi, karena bencana kelaparan yang melanda seluruh Israel.

Nampaknya, menurut Naomi, tindakan mereka ini tidak dalam perkenanan Tuhan. Di tempat yang menjadi harapan mereka, Naomi menerima keadaan yang jauh lebih buruk, suaminya meninggal. Belum cukup dengan peristiwa ini, kedua anak lelakinya pun meninggal sebelum memiliki keturunan. 

Dalam tradisi pada saat itu, kehadiran lelaki dipandang sebagai penerus keturunan. Sehingga kehormatan dari keluarga masih berlanjut terus dan tetap dapat dipertahankan selama ada anak lelaki yang dapat meneruskan kehormatan mereka. Ini lazim dalam budaya patriarkat.

Bagi Naomi perpindahan itu menjadi hukuman Tuhan; "TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku (Rut 1:21)." Keputusan untuk pindah ke Moab dapat diartikan sebagai tindakan tidak lagi menaruh pengharapan pada Tuhan yang telah memberikan negeri Kanaan kepada nenek moyangnya.

Naomi tidak sendiri. Kedua menantunya, Rut dan Orpa, benar-benar menunjukkan bakti mereka kepada Naomi. Mereka tidak ingin berpisah dari Naomi. Sehingga ketika Naomi memutuskan kembali ke Betlehem, Rut dan Orpa memutuskan untuk ikut.

Menurut Naomi, tidak ada apa pun yang dapat meneruskan kehormatan keluarganya. Dia tidak dapat berharap pada Rut dan Orpa. Dalam pandangan Naomi, dari pada Rut dan Orpa hanya menjadi sengsara, lebih baik mereka kembali kepada bangsa mereka, keluarga mereka.

Orpa, dengan berat hati, menerima saran Naomi. Saya tidak menyalahkan keputusan Orpa untuk meninggalkan Naomi. Ini adalah pilihan yang baik. Namun tidak demikian dengan Rut.

Di hadapan Naomi, Rut mengucapkan kata-kata itu; "Allahmulah Allahku."

Saya langsung membayangkan Naomi menjadi repot sendiri, geleng-geleng kepala dan menepuk dahinya; "Kasihan menantuku ini."

[2.]

Berdasarkan pemahaman di atas saya menyusun gambaran itu. Ada karakter Rut yang penuh percaya diri mengucapkan kata-kata itu. Ada karakter Naomi yang jadi bingung dengan keputusan Rut. Ada pula ada karakter Orpa yang merasa berat meninggalkan Naomi; bahkan pergi meninggalkan Naomi sambil menangis.

Perjalanan ke Betlehem bagi Rut dan Orpa mungkin merupakan perjalanan yang penuh tantangan. Mereka akan memasuki dunia yang berbeda, yang tidak mereka kenal sebelumnya. Bagi Naomi, perjalanan ke Betlehem berarti upaya menyiapkan diri berhadapan dengan pandangan masyarakat yang tidak mustahil akan menertawakan kegagalannya. Dalam perspektif ketiganya perjalanan ke Betlehem seperti mendaki dan melewati rintangan. Saya menggambarkan tantangan itu dengan jalan batu yang berliku, menanjak dan berjurang. 

Ini merupakan perjalanan iman bagi setiap orang percaya. Naomi belum melihat itu. Dia baru melihat dari sudut pandang hatinya yang hancur. Rut sebaliknya; keyakinan yang kuat, walaupun tidak tertutup kemungkinan bahwa dia pun bertanya tentang masa depannya.

non mortui laudabunt Dominum

01 February 2014

Makan atau tidak, ... pemahamannya bagaimana?


"Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu  sandungan bagi mereka yang lemah." (I Korintus 8:9)

[1.]

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Korintus adalah apakah makanan sesajian untuk para dewa dapat dimakan?

Bagi beberapa orang yang menyebut diri telah berpengetahuan, makanan tersebut dapat dimakan. Makanan itu tidak memiliki makna apa pun bagi mereka selain sebagai makanan saja; "kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan" (I Korintus 8:8). Namun bagi mereka yang masih lemah iman, makanan tersebut masih tetap dimaknai sebagai makanan sesajian. Mereka ini tidak bisa lepas dari tradisi atau kebiasaan. 

Masalahnya, ketika mereka yang lemah iman melihat orang yang berpengetahuan itu memakan sesajian tersebut, maka mereka seperti mendapat pengesahan untuk tetap makan tanpa harus melepaskan diri dari pemahaman yang seharusnya ditolak itu. Paulus mengistilahkannya dengan batu sandungan.

[2.]

Gagasan semula gambarnya adalah pertentangan antara makan atau tidak; antara menuruti pemahaman iman atau menuruti keinginan indrawi. Namun masalah sebenarnya dalam I Korintus 8:1-13 adalah masalah pemahaman iman yang kuat dengan kelemahan iman. Paulus melihat makanan sesajian ini memberi sandungan bagi yang lemah dan membawa kesombongan bagi yang merasa memiliki pengetahuan. 

Saya mendapat beberapa ide gambar; mulai dari gaya kartun sampai dengan model doodle. Pada akhirnya saya memilih gambar di atas yang merupakan campuran beberapa ide.

Pemuda ini gambaran dari orang-orang yang disebut Paulus berpengetahuan. Dia tidak memandang makanan di hadapannya sebagai makanan yang menjadi ritual apa pun. Dia menutup mata tentang makna yang ada di sekitar makanan itu. Dia melihat dengan mata terbuka sebagai makanan saja. 

Dia menutup mata kiri sebagai penolakan pemahaman. Ini berhubungan dengan fungsi otak kiri manusia yang berhubungan dengan logika dan penalaran. Mata kanannya yang terbuka menatap piring itu mengingatkan pada fungsi otak kanan yang mengapresiasi setiap kenikmatan.

Bagi pemuda ini pertentangan antara makan atau tidak makan sudah tidak ada lagi, karena dia telah merubah pemahamannya menurut imannya. 

[3.]

Saya menikmati proses menggambarnya. Lagu Van Halen, seperti Can't Stop Loving You dan Why Can't This Be Love membantu kenikmatannya bersama udara malam.

"You can change your mind, we can change the things we say and do anytime ..." (Van Halen; Can't Stop Loving You)



25 January 2014

Berbahagia sajalah di dalam hubungan dengan Tuhan


"Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, ...."  (Mazmur 119:2)

[1.]

Benarkah setiap orang yang memegang peringatan-peringatan Tuhan dan hidup dalam firman-Nya, hidup senang dan bahagia? Yang terjadi justru sebaliknya. Susah, menderita, malah dalam keadaan tertentu sapu tangan kita benar-benar basah oleh air mata.

Kutipan di atas, demikian juga sebagian khotbah Yesus di bukit (Matius 5:3-12), sering dipahami bahwa mengikuti perintah Tuhan pasti akan bahagia. Padahal kenyataannya ternyata tidak demikian. Tuhan Yesus sendiri harus menderita bahkan sampai mati di kayu salib karena ketaatan-Nya menggenapkan rencana keselamatan Bapa.

'Berbahagialah' merupakan seruan, perintah, bukan sebuah akibat dari sebuah kondisi. Kepada setiap orang yang berpegang pada Firman Tuhan diserukan untuk berbahagia. 

Kebahagiaan itu sebenarnya telah ada. Setiap orang tinggal mendapatkannya dengan cara mengimani. 

Ukuran yang disebut bahagia itu tidak sama dengan kesenangan yang kita nikmati di dunia. Bagi pemazmur, kebahagiaan itu terdapat dalam hubungan yang erat dengan Tuhan. Ada sukacita yang menantikan kita pada akhir kehidupan kita. 

Mengukur kebahagiaan dengan kesenangan duniawi malah membawa kita pada hedonisme. Sayangnya, banyak warga gereja yang beranggapan bahwa diberkati dan berbahagia itu kalau tidak sakit, punya uang dan pekerjaan, tidak susah, sukses. Lah, bagaimana kalau Tuhan memang menginginkan penderitaan itu tetap ada seperti yang dialami oleh pemazmur atau Ayub dari Us? Bagaimana kalau berkat yang membahagiakan itu adalah kebersamaan dengan Tuhan ketika mengalami masalah?

Karena kebahagiaan itu sudah tersedia, namun belum dirasakan pada saat ini, kenapa kita tidak mengimaninya dan merasakannya sekarang ini juga? Jadi, diserukan kepada kita semua, "berbahagialah." Jika sedang menderita, berbahagialah!

Dengan demikian seruan itu telah menjadi ajakan bagi setiap orang.

[2.]

Gambar di atas tidak bisa dipisahkan dari Mazmur 119:105; "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."

Seseorang berjalan di antara batu-batu sambil menggenggam gulungan kertas yang menyala. Ada awan tebal di sekitarnya. Saya sering menggambarkan kehadiran Tuhan dengan awan. Dalam kehadiran-Nya sosok itu dimampukan untuk melewati rintangan, yaitu batu-batu yang ada di sekitarnya. Gulungan kertas itu menggambarkan Firman Tuhan. Dia menggenggam Firman itu ketika melewati jalan berbatu itu.

Ketika membuat wajahnya saya tidak memikirkan siapa dia. Namun ketika membuat tatanan rambutnya, saya teringat karakter Tom Hanson dalam serial jadul 21 Jump Street.

Saya sempat salah menyalin kutipan ayat. Semula saya menghitamkan yang salah itu. Tapi saya merasa penghitaman itu tidak enak dilihat. Jadi saya menempel dengan potongan kertas saja.

non mortui laudabunt Dominum

16 January 2014

Kembali menjadi warga sidi setelah menggarap Jedi ...


"May the Force be with us." (General Dodonna, 'Star Wars Episode IV: A New Hope', 1977)

[1.]

Jedi adalah organisasi fiktif yang bersifat spiritual dan monastik. Setiap anggota Jedi disiapkan untuk menjadi seorang prajurit Jedi (Jedi Knight, seperti Luke Skywalker dan Anakin Skywalker) melalui proses belajar sejak usia dini (Jedi Youngling dan Jedi Padawan). Seorang Jedi dituntut untuk melayani galaksi tempat tinggalnya dan melindunginya dari ketidakstabilan politik yang mengarah pada kehancuran. 

Jedi memahami bahwa ada kekuatan mistis yang mengatur alam semesta ini. Mereka menyebutnya 'The Force'. Kekuatan tersebut ada dalam diri mereka dan dapat dipelajari serta menolong mereka menggenapkan pelayanan mereka. Ketika menjalankan tugas pelayanan mereka dilengkapi dengan perlengkapan yang disebut lightsaber yang umumnya berwarna biru, atau bagi sebagian kecil berwarna hijau, kuning, malah ada yang ungu.

Ketika seorang Jedi tidak melakukan tugasnya, bahkan memilih sisi yang gelap, maka dia tidak lagi menjadi seorang Jedi yang baik. Dia dapat berubah menjadi seorang anggota Sith, organisasi lawannya Jedi; dari terang menjadi gelap.

[2.] 

Saya sebenarnya ingin mengisi waktu luang dengan menggambar tokoh Alkitab. Namun ketika garis-garisnya sudah muncul di kertas dan ingin menggambar genggaman tangan, saya berpikir tentang pedang; mendekati tokoh Perjanjian Lama. Tetapi yang jadi malah lightsaber. Sampai akhirnya saya membuat tulisan itu, 'Are You A Jedi?' Jadi lebih mengarah pada Obi Wan Kenobi.

Selama proses penebalan dengan pena dan marker (spidol), saya malah berpikir tentang panggilan pengutusan yang menjadi ciri khas warga sidi gereja, tempat pelaksanaan panggilan pengutusan yang kadang enak, kadang tidak enak atau sangat sulit. Ini malah memberi beberapa masukan dalam penyusunan renungan ibadah Minggu, 19 Januari 2014 yang akan datang.

[3.]

Saya bukan penganut Jediisme. Saya juga bukan penggemar Star Wars; apa lagi penggemar fanatik franchise itu. Saya hanya senang menonton 'Star Wars: A New Hope', karena Stella, sepupu saya. Namun saya akui, episode keempat itu lebih membekas dari pada lima episode yang lain. Saya hanya melihat, bahwa kadang-kadang sebuah film memiliki nilai-nilai teologis, walaupun pembuatnya tidak memaksudkan hal itu.

Saya melihat alegori Jedi itu; warga sidi, panggilan pengutusan untuk melayani dan bersaksi dalam lingkup persekutuan, menghadirkan damai sejahtera, terang dan gelap. Namun pada akhirnya; "Ah, itu cuma fantasi futuristik dari George Lucas ...."

Menurut saya, menjadi anggota sidi gereja lebih mantap dari pada menjadi anggota jedi. Kebetulan beberapa jam ke depan ada tugas mengajar calon anggota sidi jemaat; ada tugas menyampaikan materi katekisasi untuk para 'Jedi Padawan'.

[...]

(Kata sidi berasal dari kata Sansekerta siddhi, yang berarti pencapaian, kesempurnaan, penuh, genap. Tidak semua aliran gereja di Indonesia memakai istilah ini. Kata ini sendiri pun sudah tidak dipakai dalam percakapan sehari-hari.)

(Ide judul artikel blog ini adalah judul episode keenam; 'Star Wars: Return of The Jedi'.)


(LRJK; Januari 2014)


non mortui laudabunt Dominum

Perempuan yang mengambil air pada jam dua belas siang



"Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air." (Yohanes 4:6-7)

[1.]

Daerah tempat perempuan ini tinggal, kota Sikhar di Samaria, adalah daerah berbukit yang nampaknya tidak mudah untuk mendapatkan air, sehingga tempat-tempat yang menjadi sumber air selalu ramai dikunjungi orang. Biasanya yang mengunjungi mata air adalah kaum perempuan, tidak sedikit juga laki-laki yang turut mengambil air. Mereka beramai-ramai mendatangi sumber air pada waktu pagi, sebelum matahari bersinar terik dan mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Jika matahari sudah bersinar panas, sulit bagi mereka untuk mengambil air di tempat yang jauh dari kota itu.

Perempuan ini memilih keluar pada saat matahari sedang panas-panasnya, jam dua belas siang. Bisa dipastikan, tidak ada orang di sumur Yakub yang menjadi sumber air di Sikhar. Kalau pun ada orang, maka jumlahnya tidak banyak. Mengapa dia keluar pada siang hari? 

Dalam pikiran saya, ketika membaca kutipan Alkitab di atas, wanita ini ingin menghindari orang banyak. Ada dua hal yang memungkinkan, mengapa orang ingin menghindari orang banyak.

Pertama; malu. Dia merasa malu dengan keadaannya. Kehadiran dirinya di tengah-tengah orang banyak membuat dia tidak merasa nyaman. Kita bisa memahami, jika dia memilih menghindar dari orang banyak. Begitu kuatnya rasa malu itu, sehingga dia lebih memilih berpanas-panas pergi jauh-jauh ke sumur untuk mengambil air. Saya membayangkan, mungkin pengambilan air tidak dilakukan hanya dengam sekali jalan pergi pulang.

Kedua; penolakan. Dia merasa ditolak oleh lingkungannya. Penolakan pun membuat dia tidak merasa nyaman. Kita dapat memahami, jika dia memilih mengambil air pada saat sedang panas. Itu jauh lebih nyaman.

[2.]

Ketika menuangkan nas Alkitab itu dalam gambar, saya menekankan beberapa hal.

Pertama; matahari dengan bias cahayanya untuk menekankan cuaca panas itu. Bukankah Yesus sendiri merasa letih, sehingga memilih beristirahat (Yohanes 4:6)? 

Kedua; kota Sikhar yang berada di atas bukit dengan jalan ke bawah yang berkelok-kelok. Saya akan berpikir berulang-ulang, jika harus membawa air ke atas dengan jalan yang seperti itu.

Ketiga; perempuan Samaria mengenakan pakaian penutup yang menyisakan sebagian wajahnya. Pakaian perempuan di daerah itu, bahkan sampai sekarang, memang kurang lebih seperti itu. Namun dalam gambar ini, saya membayangkan rasa malu dan penolakan pada dirinya membuat dia memakai pakaian yang demikian. Saya sulit membayangkan kenyamanannya, membawa air jauh-jauh di tengah-tengah panas matahari dengan pakaian yang demikian. 

Perempuan Samaria ini adalah simbol rasa malu dan penolakan. Perjumpaannya dengan Yesus memberikan kekuatan dan keberanian baginya untuk menghadapi kenyataan. Bahkan dia dimampukan untuk menghadapi penduduk Sikhar dan memberitakan kedatangan seorang yang 'mungkin' Kristus yang dijanjikan itu (Yohanes 4:28-30).

[3.]

Gereja dalam panggilan pelayanan dan kesaksiannya patut menjangkau orang-orang yang telah dipinggirkan oleh lingkungan, bukan turut meminggirkan mereka. Masih ada warga gereja yang meminggirkan orang-orang yang dianggap berdosa, tidak benar, musuh masyarakat. Sikap ini justru hanya membangun tirai pemisah yang menghambat kehadiran kasih Allah. Warga gereja tidak boleh bersikap seperti itu. Dasarnya adalah penerimaan Allah menurut kasih-Nya pada manusia yang dinampakkan dengan penerimaan Yesus pada perempuan Samaria ini.

[...]

(Gambar ini dibuat setelah membaca perikop untuk khotbah Minggu II sesudah Adven, 19 Januari 2014)

non mortui laudabunt Dominum

  • Perempuan yang mengambil air pada jam 12.00 siang; pen (Sharpie, Uni Pin) dan marker (Sharpie) di Moleskine®

11 January 2014

Yesus ditolak di Nazaret



"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya." (Lukas 4:24)

[1.]

Pada hari Sabat Yesus mengunjungi sinagoge di Nazaret. Yesus mendapat kesempatan untuk membaca dan memberikan pengajaran sehubungan dengan nas yang dibaca-Nya. 

Namun saya menjumpai nada seperti kekecewaan dan sulit menerima dari orang-orang Nazaret yang berujung pada tindakan penolakan yang fatal; menggiring Yesus ke tebing dan hendak melemparkan Dia. 

Penolakan terhadap Yesus di Nazaret berkaitan dengan pengenalan orang Nazaret terhadap Yesus. Bagi mereka, Yesus adalah anaknya Yusuf, yang dikenal sebagai tukang kayu (Lukas 4:22, bdk. Matius 13:55 dan Markus 6:3). Jadi sekalipun kata-kata yang disampaikan Yesus indah, latar belakang Yesus lebih dipikirkan oleh mereka, sehingga mereka tetap menolak-Nya. Mereka tidak bisa menerima, kenapa anak tukang kayu mengajar mereka? Di sini kita memahami keheranan mereka.

Keheranan dan penolakan itu disikapi Yesus dengan 'keengganan'-Nya melakukan mujizat di Nazaret. Yesus memakai tindakan Elia dan Elisa yang menolong orang asing ketimbang orang-orang sebangsanya sendiri. Sikap ini justru membuat orang-orang Nazaret merasa ditempatkan sebagai posisi orang-orang yang degil.

Kesadaran yang seharusnya membawa perubahan yang lebih baik itu justru diikuti dengan kemarahan dan kecenderungan tindakan kekerasan (lih. Lukas 4:29).

[2.]

Saya menggambarkan orang yang marah itu sebagai orang yang rajin beribadah, mengetahui Firman Tuhan. Dalam tradisi orang Yahudi, ketika seorang dianggap dewasa iman, mereka akan mengenakan talit (kain syal penutup kepala yang dikenakan selama berdoa) dan tefilin (kotak berisi gulungan tulisan ayat yang dikenakan di kepala dan tangan). Gambaran tersebut saya kembangkan, karena tempat peristiwa penolakan itu, rumah ibadat (sinagoge, Lukas 4:16).

Warga gereja sering kali bersikap seperti orang-orang Nazaret itu. Tahu firman Tuhan, bahkan paham. Namun ketika bagian dari firman itu dianggap menyakiti, maka muncul sikap penolakan.

Penolakan terhadap Yesus bukan saja berarti menolak kehadiran Yesus sebagai Juruselamat. Ketika kita menutup telinga dan hati kita dari kehendak Tuhan, apa pun yang diinginkan-Nya untuk kita lakukan, maka itu pun sudah merupakan penolakan.

Kadang-kadang, sekali pun kita menganggap diri kita taat, kita bisa saja memilih untuk menolak perintah Tuhan, kan?

non mortui laudabunt Dominum

18 December 2013

Gaudete, merah muda di tengah minggu-minggu Adven ...


"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! 
Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" 
(Filipi 4:4)

[1.]

Dalam tradisi gereja, hari Minggu Adven ketiga, yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 15 Desember lalu, biasa disebut Gaudete. Kata gaudete berasal dari bahasa Latin, artinya sukacita. Penamaan tersebut berdasarkan nyanyian introitus dalam ibadah yang lazim dipakai pada hari Minggu Adven ketiga, “Gaudete in Domino semper, iterum dico, gaudete.” Nyanyian tersebut diangkat dari Filipi 4:4.

Pada masa Adven warna yang menonjol adalah ungu. Warna ungu melambangkan pertobatan yang berhubungan dengan persiapan hati untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Namun pada Adven ketiga warna yang dipakai cenderung merah muda, pink. Warna merah muda berhubungan dengan sukacita. Pada Adven ketiga ini terjadi pergeseran makna dari masa pertobatan menuju sukacita menyambut kedatangan Yesus.

[2.]

Gambar di atas merupakan sampul lembaran warta jemaat edisi 15 Desember 2013 lalu yang dibuat sekaligus sebagai materi bina yang sederhana. Gambar mawar dan beberapa elemen bukan buatan saya. Saya mengunduh dari Google. Karena ada bidang kosong yang cukup banyak, saya membuat beberapa garis doodle. 

Non mortui laudabunt Dominum

26 November 2013

Pahami sebelum menyampaikan ...


“Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” (Habakuk 2:1)

[1.]

Sebagai seorang nabi Habakuk bertugas menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya.  Saya, dan mungkin juga banyak orang yang lain, berpikir, bahwa penyampaian firman tersebut dilakukan tanpa banyak tanya lagi. Tuhan telah berfirman, maka nabi harus menyampaikan tanpa tawar menawar lagi.

Ketika membaca Habakuk, saya mendapat kesan, bahwa Habakuk merasa keberatan menyampaikan firman Tuhan yang telah diterimanya. Dia seperti ‘menggugat’ keputusan Tuhan, mengapa Tuhan memakai bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan sebagai alat untuk menghukum dan menghancurkan umat-Nya. Habakuk tidak bisa memahami keputusan Tuhan yang rasanya aneh dan tidak berpihak pada umat-Nya sendiri.

“Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” (Habakuk 1:13)

Bagi saya, tindakan Habakuk tersebut mengingatkan peran gereja untuk menyampaikan suara kenabiannya dengan kritis. Tidak saja firman Tuhan itu disampaikan kepada umat (dunia), namun juga dipahami dengan baik kehendak Tuhan itu sendiri.

Di pasal terakhir, kita berjumpa dengan pernyataan Habakuk yang paradoks. Pernyataan itu lahir dari pengharapan yang kuat, bahwa sekalipun keadaan yang dialami adalah penderitaan, namun iman pada kasih Tuhan membawa pengharapan pada penyelamatan yang membuat Habakuk akan bersukacita.

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18)

[2.]

Gambar tersebut dikembangkan dari Habakuk 2:1-5 yang menjadi bahan khotbah dalam Ibadah Minggu di jemaat-jemaat GPIB.

Pada satu titik tertentu sikap kritis akan berubah menjadi arogan. Sikap arogan ditunjukkan oleh para pemrakarsa menara Babel. Melalui pembangunan menara mereka mencoba menyamai Tuhan. Namun, saya tidak melihat sikap arogan Habakuk, ketika dia berdiri di atas menara. Saya melihat sisi ‘kebingungan’ Habakuk yang mencoba memahami kehendak Tuhan.

Menara, bagi saya, menjadi simbol keinginan Habakuk yang sangat kuat untuk memahami kehendak Tuhan. Menara menjadi sarana untuk lebih dekat pada kehendak Tuhan.

Non mortui laudabunt Dominum.

25 October 2013

Yitro menasihati Musa


“Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau ...”  (Keluaran 18:19)

[1.]

Memimpin sejumlah besar orang tidak mudah. Musa mengalami repotnya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Dalam kepemimpinannya, Musa dituntut untuk mengajarkan hukum Taurat dan menjadi hakim bagi bangsa Israel.

Pertemuan Yitro dan Musa tidak hanya merupakan wujud kerinduan pertemuan keluarga. Dalam pertemuan itu Yitro memberikan nasihat dan masukan yang membantu Musa dalam menunaikan panggilannya sebagai pemimpin bangsa Israel.

Menurut Yitro, kepemimpinan Musa yang hanya seorang diri tidak efisien. Yitro menasihati Musa agar memilih beberapa orang yang dapat dipercaya untuk menjadi wakil Musa.

Saya tidak tahu, bagaimana pengenalan dan pemahaman Yitro terhadap Tuhan Allah yang telah mengenalkan diri pada Musa. Namun dia memiliki keyakinan, bahwa Tuhan yang telah mengenalkan diri pada Musa itu akan menyertai Musa dalam tugas kepemimpinannya.

Saya kira keimanan Yitro kepada Tuhan terjadi setelah menyaksikan tindakan-tindakan Tuhan  dalam perjalanan Israel. Sehingga ketika ia memberikan nasihat kepada Musa berdasarkan imannya yang 'baru saja' dibaharui tersebut, saya melihat situasi yang menarik;
'yang baru mengarahkan yang lama'.

[2.]

Saya menggunakan bagan untuk menjelaskan usulan Yitro. Dalam bagan itu garis kepemimpinan itu mengarah pada Musa sebagai pemimpin yang telah ditunjuk oleh Tuhan.

Secara keseluruhan gambar di atas cenderung berbentuk vinyet. Menggambar vinyet kerap kali mengundang kita untuk menambahkan elemen-elemen yang mengisi ruang kosong dan saling menyatu.

Non mortui laudabunt Dominum
  • Jethro advises Moses; pena (Uni Pin, Faber Castell, Sharpie) di kertas Windsor & Newton A4. 




20 October 2013

Dari mendengar hingga percaya ...



“Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku. Karena menyimpannya dalam hati akan menyenangkan bagimu, bila semuanya itu tersedia pada bibirmu.”  (Amsal 22:17-18)

[1.]

Memercayakan hidup pada Tuhan merupakan respon atas iman kepada Tuhan. Keimanan itu muncul dari pengenalan. Proses pengenalan itu sendiri dapat terjadi melalui pengajaran yang disampaikan kepada yang bersangkutan.

Pengajaran yang telah diterima, bila diperhatikan dan direnungkan, akan membawa kesenangan tersendiri. Bagi saya kesenangan itu adalah kebahagiaan surgawi yang menjadi akhir perjalanan iman kita.

[2.]

Memercayakan diri berarti penyerahan diri dalam kekuasaan Tuhan. Saya membayangkan seseorang yang sedang berbaring  di atas awan kemuliaan Tuhan sebagai tanda penyerahan itu.

Amsal 22:17,18 menggambarkan telinga sebagai tempat masuk pengajaran dan hati adalah tempat pengajaran itu bersarang. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata 'labe' yang berarti 'hati'. Pengajaran itu menjadi perhatian; per-'hati'-an, merujuk pada keadaan yang telah di-'hati'-kan. Dari hati pengajaran itu berlanjut lagi dalam kehidupan kita.

Kitab Amsal memberikan kesaksian bahwa sikap kita pada Tuhan yang diwarnai dengan rasa hormat menjadi sarana kehadiran pengetahuan itu (lih. Amsal 1:7). Itu sebabnya saya menggambarkan awan - yang sering dipakai sebagai simbol kehadiran Tuhan - sebagai asal aliran pengetahuan yang murni.

Dalam proses dari pendengaran hingga menjadi perbuatan ada tuntunan Roh Kudus - yang dilambangkan dengan burung merpati. Ada keluwesan dalam tuntunan Roh Kudus. Roh Kudus dapat menuntun dengan cara apa pun yang dikehendaki Tuhan Allah. Saya menggambarkan dengan manuver terbang merpati yang tidak lazim itu.

Non mortui laudabunt Dominum

  • Dengar, perhatian, percaya, ...; Uni Pen dan Sharpie di kertas Windsor & Newton A4, Photoshop CS5