As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.

Psalms 103:15-16; KJV

Showing posts with label mujizat. Show all posts
Showing posts with label mujizat. Show all posts

17 May 2014

Menyanyi bersukacita karena Tuhan menjadi keselamatan ...


"TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku."
(Keluaran 15:2a)

[1.]

Menyanyi menjadi ungkapan syukur bangsa Israel setelah Tuhan menyeberangkan mereka melalui laut Merah yang telah terbelah. Mereka bersyukur karena Tuhan telah menyatakan kekuasaan dan kasih-Nya pada mereka.

Sebelum bangsa Israel menyeberangi laut Merah dengan cara yang ajaib itu, mereka berada dalam keadaan terjepit. Di belakang mereka pasukan Firaun telah mengepung mereka. Di depan mereka terbentang lautan. Bagaimana mereka dapat menyelamatkan diri dari situasi itu? Jadi, tinggal menunggu dihancurkan dan mati?

Jawabannya ada pada Tuhan yang telah memimpin mereka dalam perjalanan keluar dari Mesir hingga akhirnya tiba di tepi laut. Dalam keadaan kalut mereka memarahi Musa. Musa menjadi tambah kalut. Tuhan pun menunjukkan kekuasaan-Nya. Tindakan ini mengingatkan bangsa Israel, bahwa Tuhan adalah Allah semesta alam, Pencipta dan Penguasa langit dan bumi.

Dalam kepemimpinan Tuhan dan tindakan-Nya tersebut, umat diingatkan bahwa Tuhan yang memimpin mereka adalah Tuhan yang tidak akan membiarkan umat yang dipimpin-Nya dihancurkan oleh siapa pun. Atas tindakan dan pemahaman itu, Musa dan orang Israel menyanyikan syukur dan pujian kepada Tuhan.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa kehidupan ini pun menjadi indah dengan segala pergumulan yang kita hadapi. Jika kita menjalankan kehidupan ini tanpa tantangan dan rintangan, apa yang dapat kita banggakan?

Dengan demikian kita membayangkan nyanyian mereka benar-benar dipenuhi perasaan sukacita, kegembiraan yang meluap. Waow!

[2.]

Saya menggambarkan peristiwa sukacita itu dengan gambar doodle. Ada umat yang bersukacita, ada pula Firaun yang akan tenggelam. Tindakan Tuhan yang memenangkan umat-Nya itu saya gambarkan sebagai peristiwa sukacita. Bukan hanya umat-Nya yang bersukacita. Alam pun turut bersukacita.

Matahari yang bersukacita menunjukkan kehadiran matahari itu sebagai ciptaan Tuhan, di bawah kekuasaan Tuhan. Ini menjadi pesan khusus. Bangsa Mesir kuno melihat matahari sebagai pemilik kehidupan; dewa Ra. Namun yang dipandang sebagai pemilik kehidupan itu tidak melakukan apa pun ketika Tuhan telah memutuskan umat-Nya harus selamat dari kejaran Firaun.

non mortui laudabunt Dominum

20 February 2014

Sukacita cuma dengan garam dalam pinggan saja ...



"Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: 'Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi.'" (II Raja-raja 2:21)

[1.]

Dahulu belum ada distribusi dan penjualan air bersih seperti yang kita nikmati sebagai minuman kemasan, penduduk kota atau desa benar-benar bergantung pada sumber air yang berada di sekitar mereka. Mereka akan mengambil air itu dan membawa ke rumah masing-masing untuk keperluan minum, makanan dan mandi mereka. Ketika sumber air itu mengering, penduduk desa akan mengalami kesengsaraan.

Bagi penduduk kota Yeriko, kesengsaraan yang mereka terima bukan karena sumber air mereka kering, melainkan akibat yang dibawa oleh sumber air itu. Dalam bahasa sekarang, air itu sudah terkontaminasi. Alkitab tidak menyebutkan, apa yang membuat sumber air mereka berubah menjadi penyebab kematian dan keguguran. Padahal terlalu berat bagi mereka untuk mengambil air dari sungai Yordan yang jaraknya mencapai 10 km lebih itu untuk keperluan sehari-hari.

Kehadiran Elisa, nabi yang dianggap penerus nabi Elia, di Yeriko memberikan harapan kepada penduduk kota. Mereka mengadukan kesusahan mereka kepada Elisa; "Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi."

Elisa langsung bertindak. Dia meminta pinggan yang baru dan garam. Melalui garam dalam pinggan tersebut, sumber air penduduk Yerikho menjadi sehat kembali. Hanya dengan garam yang dilemparkan saja.

Rasanya, garam dan pinggan baru bisa ditemui di banyak rumah. Namun tidak ada yang berpikir untuk memakai keduanya. Garam biasa dipakai untuk menyedapkan masakan. Pinggan adalah wadah. Tetapi pinggan yang diminta oleh Elisa adalah pinggan yang khusus. Elisa meminta, dalam bahasa Ibrani, tselokhith. Kata ini berasal dari kata tsalakh yang berarti beruntung. Mungkin ini adalah pinggan yang diberikan untuk menghormati tamu yang berkunjung.

Tindakan yang sederhana itu diimani sebagai tindakan Tuhan yang menginginkan damai sejahtera bagi umat-Nya. Elisa hanya alat. Garam dan pinggan hanya alat. Yang bekerja memulihkan air itu adalah Tuhan; "Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, ..."

[2.]

Pada umumnya tokoh-tokoh Alkitab digambarkan dalam sosok yang menarik. Namun saya memiliki gambaran Elisa dalam sosok yang tidak biasa; bertubuh besar dan kepala yang botak. Saya memiliki alasan untuk penggambaran itu.

Elisa diceritakan berkepala botak. Kebotakannya itu menjadi cerita tersendiri yang mungkin tidak pernah diceritakan dalam Sekolah Minggu di banyak gereja. Cerita tentang kebotakannya dapat dijumpai di 2 Raja-raja 2:23-24.

Badan Elisa yang besar itu dibuat berdasarkan 1 Raja-raja 19:19. Elisa ditemukan oleh Elia ketika sedang membajak dengan 12 pasang lembu. Kita butuh tenaga yang kuat untuk mengarahkan lembu sebanyak itu.