"Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."
(1 Samuel 16:12; TB)
Anugerah kedudukan sebagai raja, yang merupakan kepercayaan yang diberikan Tuhan, tidak disikapi dengan ketaatan yang sungguh-sungguh oleh Saul. Akibatnya, Tuhan menyikapi ketidaktaatan Saul melalui penolakan. Tuhan telah menolak Saul. Penolakan tersebut membuat Samuel berduka.
Tuhan memarahi Samuel, karena larut dalam dukacita. Dukacita membuat Samuel tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa lebih baik lagi. Tuhan menyuruh Samuel bangkit, bersemangat kembali. Bahkan Tuhan menyuruh Samuel pergi ke Betlehem dan mengurapi salah seorang anak Isai sebagai raja.
Perjalanan yang cukup panjang dari Rama sampai Betlehem memberi waktu yang cukup lama bagi Samuel untuk membangun kriteria seorang raja yang baik bagi Israel. Saya kira tidak berlebihan, jika kriteria yang dibangun oleh Samuel didasarkan pada pengalamannya dengan Saul. Sangat memungkinkan untuk dibayangkan, jika Samuel tidak menginginkan orang akan diurapinya memiliki kesamaan dengan Saul.
Pilihan Tuhan ternyata mengagetkan, mungkin malah menghancurkan bangunan kriteria yang dibuat oleh Samuel. Tuhan malah memilih anak Isai yang bungsu, yang masih kemerah-merahan itu dan sedang disuruh (atau malah kesenangannya) menggembalakan kambing domba. Saya membayangkan Daud yang kemudian diurapi oleh Samuel itu adalah seorang anak remaja yang pada masa kini mungkin masih mengenakan seragam putih biru.
Tuhan telah memilih anak itu. Mungkin bukan seperti yang dibayangkan Samuel. Sebagai pilihan-Nya, Tuhan mengaruniakan Roh-Nya berkuasa atas Daud. Kalau begitu, jika Tuhan memilih kita sebagai kepercayaan-Nya, sebaiknya tidak usah tawar menawar untuk bisa lepas dari kepercayaan itu.
[…]
As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.
Psalms 103:15-16; KJV
Showing posts with label figur. Show all posts
Showing posts with label figur. Show all posts
28 September 2015
14 March 2015
Tentang Sebuah Perjalanan 'Menyongsong Kematian' menjelang Minggu Laetare
"Sekarang kita pergi ke Yerusalem
dan Anak Manusia akan diserahkan
kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati ..."
(Markus 10:33)
[1.]
Minggu yang ketiga sebelum Minggu Paskah dalam tradisi gereja dinamakan Minggu Laetare. Pada tahun 2015 ini Minggu Laetare jatuh pada tanggal 15 Maret. Kata laetare merupakan kata Latin yang berarti bersukacita. Penamaan ini berdasarkan antifon yang membuka ibadah Minggu tersebut yang diambil dari Yesaya 66:10; "Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem,..." Dalam terjemahan Latin; "Laetamini cum Hierusalem ..." Selain Yesaya 66:10, gereja juga menggunakan Mazmur 122 yang memiliki tema yang serupa.
Minggu ini bagaikan masa jeda dalam masa puasa 40 hari yang dilakukan oleh umat. Ada masa untuk bersukacita sejenak di antara masa penyesalan dan pengakuan. Sukacita ini muncul karena umat diingatkan pada rahmat pengampunan dari Allah.
[2.]
Sehubungan dengan Minggu Laetare dan Yerusalem itu saya membuat gambar di atas menurut interpretasi saya.
Saya membayangkan, bahwa keputusan Yesus ke Yerusalem bukan keputusan yang mudah; bukan sebuah sukacita bagi Diri-Nya'. Dalam sisi kemanusiaan-Nya, Yesus mengalami pergumulan sendiri. 'Ketidaksiapan' yang lahir dari sisi kemanusiaan itu yang membuat-Nya mengulang-ulang pemberitahuan penderitaan-Nya kepada murid-murid. Kata-kata itu diucapkan untuk mengingatkan dan sekaligus menguatkan diri kemanusiaan Yesus sendiri.
Dalam pemahaman saya yang demikian, sulit membayangkan, bahwa Tuhan Yesus menyampaikan ajakan ke Yerusalem itu dengan riang gembira. Pasti ada guratan kesedihan di wajah-Nya yang sekaligus menunjukkan penolakan-Nya. Penolakan itu sendiri mencapai puncaknya kelak dalam peristiwa di Getsemani. Yang harus diingat adalah ini merupakan perjalanan menuju kematian yang menyakitkan.
Pergumulan batin antara meneruskan kehendak Bapa, yaitu pergi ke Yerusalem, dengan penolakan yang berangkat dari sisi manusia-Nya saya gambarkan dengan dua personifikasi; Tuhan Yesus sendiri dan Si Penghasut yang sedang menantang. Tantangan ini seperti melanjutkan bujukannya ketika mencobai Yesus di padang gurun.
Saya pun menggambarkan pemikiran tentang dualisme itu dalam arah angin yang berlawanan. Kita memang sering membiarkan diri kita diombang-ambingkan juga, kan? Namun, pada akhirnya, kita harus memutuskan sendiri. Tuhan Yesus memilih untuk pergi.
Gambar : "An Adoration to IXP: Dying Journey to Jerusalem"
22 May 2014
Ketakutan itu berasal dari kita sendiri ...
"A strange or horrible imaginary creature."
(www.merriam-webster.com/dictionary/monster)
[1.]
Menggambar monster itu menyenangkan. Karena monster itu hanya makhluk khayalan. Tidak seorang pun yang dapat memastikan bentuknya. Setiap orang akan menginterpretasikan monster itu dengan caranya sendiri lalu menuangkannya dalam karya masing-masing. Interpretasi dan khayalan membuat proses menggambar monster itu menyenangkan.
Menggambar monster itu menyenangkan. Karena monster itu hanya makhluk khayalan. Tidak seorang pun yang dapat memastikan bentuknya. Setiap orang akan menginterpretasikan monster itu dengan caranya sendiri lalu menuangkannya dalam karya masing-masing. Interpretasi dan khayalan membuat proses menggambar monster itu menyenangkan.
Setiap orang yang ingin menggambarkan monster akan membiarkan daya khayalnya. Tidak jarang gambaran itu terbentuk dari berbagai makhluk hidup yang dijumpai sehari-hari yang disatukan dalam satu bentuk. Tidak jarang juga gambaran itu dibentuk dengan cara menambahkan dan mengubah bagian-bagian tubuh yang dimiliki oleh makhluk hidup yang sebenarnya. Benar-benar permainan imajinasi.
[2.]
Tiba-tiba saya ingin menggambar monster. Beberapa monster. Saya ingin menggambar tentang ketakutan, perasaan yang dimiliki oleh setiap orang.
Bagi saya, ketakutan itu seperti kita memasuki sebuah mimpi buruk. Ada saatnya mimpi itu berakhir dan semua yang buruk dalam mimpi itu hilang entah ke mana. Ketakutan itu pun pasti akan berakhir.
Tiba-tiba saya ingin menggambar monster. Beberapa monster. Saya ingin menggambar tentang ketakutan, perasaan yang dimiliki oleh setiap orang.
Bagi saya, ketakutan itu seperti kita memasuki sebuah mimpi buruk. Ada saatnya mimpi itu berakhir dan semua yang buruk dalam mimpi itu hilang entah ke mana. Ketakutan itu pun pasti akan berakhir.
Yang mengherankan, saya pun mengalaminya, kita tetap membiarkan diri kita diliputi oleh ketakutan itu. Jangan-jangan sebenarnya ketakutan itu dibangun oleh pikiran kita sendiri. Jadi lucu, kita yang bangun pikiran yang menakutkan itu, lalu kita takut sendiri. Itu hebatnya rasa takut. Dia menjelmakan diri lebih besar dari kita, lalu mengurung kita di dalamnya. Karena kita sendiri.
Cuma satu jalan untuk menghadapi dan keluar dari rasa takut. Setiap orang yang terkurung dalam mimpi buruk tidak mampu keluar karena mereka tidak membiarkan diri menjadi berani. Kuncinya hanya memberanikan diri.
[...]
Mungkin saya akan membuat monster-monster yang disebut dalam Alkitab. Nampaknya menyenangkan juga. Mungkin ...
[...]
Mungkin saya akan membuat monster-monster yang disebut dalam Alkitab. Nampaknya menyenangkan juga. Mungkin ...
16 January 2014
Perempuan yang mengambil air pada jam dua belas siang
"Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air." (Yohanes 4:6-7)
[1.]
Daerah tempat perempuan ini tinggal, kota Sikhar di Samaria, adalah daerah berbukit yang nampaknya tidak mudah untuk mendapatkan air, sehingga tempat-tempat yang menjadi sumber air selalu ramai dikunjungi orang. Biasanya yang mengunjungi mata air adalah kaum perempuan, tidak sedikit juga laki-laki yang turut mengambil air. Mereka beramai-ramai mendatangi sumber air pada waktu pagi, sebelum matahari bersinar terik dan mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Jika matahari sudah bersinar panas, sulit bagi mereka untuk mengambil air di tempat yang jauh dari kota itu.
Perempuan ini memilih keluar pada saat matahari sedang panas-panasnya, jam dua belas siang. Bisa dipastikan, tidak ada orang di sumur Yakub yang menjadi sumber air di Sikhar. Kalau pun ada orang, maka jumlahnya tidak banyak. Mengapa dia keluar pada siang hari?
Dalam pikiran saya, ketika membaca kutipan Alkitab di atas, wanita ini ingin menghindari orang banyak. Ada dua hal yang memungkinkan, mengapa orang ingin menghindari orang banyak.
Pertama; malu. Dia merasa malu dengan keadaannya. Kehadiran dirinya di tengah-tengah orang banyak membuat dia tidak merasa nyaman. Kita bisa memahami, jika dia memilih menghindar dari orang banyak. Begitu kuatnya rasa malu itu, sehingga dia lebih memilih berpanas-panas pergi jauh-jauh ke sumur untuk mengambil air. Saya membayangkan, mungkin pengambilan air tidak dilakukan hanya dengam sekali jalan pergi pulang.
Kedua; penolakan. Dia merasa ditolak oleh lingkungannya. Penolakan pun membuat dia tidak merasa nyaman. Kita dapat memahami, jika dia memilih mengambil air pada saat sedang panas. Itu jauh lebih nyaman.
[2.]
Ketika menuangkan nas Alkitab itu dalam gambar, saya menekankan beberapa hal.
Pertama; matahari dengan bias cahayanya untuk menekankan cuaca panas itu. Bukankah Yesus sendiri merasa letih, sehingga memilih beristirahat (Yohanes 4:6)?
Kedua; kota Sikhar yang berada di atas bukit dengan jalan ke bawah yang berkelok-kelok. Saya akan berpikir berulang-ulang, jika harus membawa air ke atas dengan jalan yang seperti itu.
Ketiga; perempuan Samaria mengenakan pakaian penutup yang menyisakan sebagian wajahnya. Pakaian perempuan di daerah itu, bahkan sampai sekarang, memang kurang lebih seperti itu. Namun dalam gambar ini, saya membayangkan rasa malu dan penolakan pada dirinya membuat dia memakai pakaian yang demikian. Saya sulit membayangkan kenyamanannya, membawa air jauh-jauh di tengah-tengah panas matahari dengan pakaian yang demikian.
Perempuan Samaria ini adalah simbol rasa malu dan penolakan. Perjumpaannya dengan Yesus memberikan kekuatan dan keberanian baginya untuk menghadapi kenyataan. Bahkan dia dimampukan untuk menghadapi penduduk Sikhar dan memberitakan kedatangan seorang yang 'mungkin' Kristus yang dijanjikan itu (Yohanes 4:28-30).
[3.]
Gereja dalam panggilan pelayanan dan kesaksiannya patut menjangkau orang-orang yang telah dipinggirkan oleh lingkungan, bukan turut meminggirkan mereka. Masih ada warga gereja yang meminggirkan orang-orang yang dianggap berdosa, tidak benar, musuh masyarakat. Sikap ini justru hanya membangun tirai pemisah yang menghambat kehadiran kasih Allah. Warga gereja tidak boleh bersikap seperti itu. Dasarnya adalah penerimaan Allah menurut kasih-Nya pada manusia yang dinampakkan dengan penerimaan Yesus pada perempuan Samaria ini.
[3.]
Gereja dalam panggilan pelayanan dan kesaksiannya patut menjangkau orang-orang yang telah dipinggirkan oleh lingkungan, bukan turut meminggirkan mereka. Masih ada warga gereja yang meminggirkan orang-orang yang dianggap berdosa, tidak benar, musuh masyarakat. Sikap ini justru hanya membangun tirai pemisah yang menghambat kehadiran kasih Allah. Warga gereja tidak boleh bersikap seperti itu. Dasarnya adalah penerimaan Allah menurut kasih-Nya pada manusia yang dinampakkan dengan penerimaan Yesus pada perempuan Samaria ini.
[...]
(Gambar ini dibuat setelah membaca perikop untuk khotbah Minggu II sesudah Adven, 19 Januari 2014)
non mortui laudabunt Dominum
- Perempuan yang mengambil air pada jam 12.00 siang; pen (Sharpie, Uni Pin) dan marker (Sharpie) di Moleskine®
04 January 2014
Yesus adalah ...
"Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, ..." (Markus 1:9)
[1.]
Pada hari Minggu, 5 Januari 2014, Gereja-gereja yang berakar dari tradisi Gereja Barat merayakan Minggu Epifani. Kata epifani berasal dari kata Yunani epiphaneia yang berarti penampakan yang mencolok.
Perayaan ini dikaitkan dengan penyataan atau kehadiran Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang akan menggenapkan rencana keselamatan Allah bagi manusia. Dalam tradisi gereja barat penyataan tersebut cenderung dimulai dengan kunjungan para majus, sedangkan tradisi gereja timur cenderung mengarah pada baptisan Yesus di sungai Yordan.
Selama penyataan kemuliaan Yesus di dunia ini - yang berakhir pada kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya - ada banyak gelar yang ditujukan kepada Yesus. Bahkan ada gelar yang telah disampaikan dalam nubuat para nabi.
[2.]
Saya mencoba mengumpulkan dan menuliskan beberapa gelar yang ditujukan kepada Yesus, orang Nazaret itu. Dari semua gelar itu Kristus adalah gelar yang menggandeng nama-Nya, bahkan diucapkan seperti menyebut nama lengkap; Yesus Kristus.
Selama proses menulis dan menarik garis yang menghubungkan masing-masing gelar itu, saya malah semakin takjub dengan kemuliaan yang ada pada pemuda Yesus dari Nazaret itu. Ketakjuban itu mengantar pada sebuah perenungan ulang tentang siapakah Yesus bagi saya yang berujung pada penegasan panggilan dan pengutusan dari Tuhan; "... yang memilih kamu" (Yoh. 15:16).
[3.]
Kiranya gambar ini membuat masing-masing warga gereja melihat kembali makna kehadiran Yesus bagi diri mereka, terlebih di tengah-tengah situasi yang sungguh-sungguh membutuhkan kehadiran warga gereja sebagai pelayan-pelayan-Nya yang menghadirkan damai sejahtera.
non mortui laudabunt Dominum.
05 October 2011
Jubah berwarna-warni yang maha indah itu malah diberikan pada Si Kecil ...
![]() |
"Satu lagi. Baru sekedar sketsa ... " - Pensil Stabilo Micro 2B di atas kertas Winsor & Newton 21.0 cm x 29.7 cm - |
"Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain,
sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya;
dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia."
(Kejadian 37:3; Alkitab Terjemahan Baru, © LAI 1974)
[1]
Dalam tradisi kuno dulu, kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang disimbolkan dengan pemakaian jubah. Dalam Kejadian 37 simbol kekuasaan itu diberikan oleh Yakub (Israel) kepada Yusuf. Hal ini justru membuat kakak-kakaknya menjadi jengkel setengah mati.
"Kenapa harus Yusuf, adik yang pengadu itu, yang dihadiahkan jubah itu?"
"Mana jubahnya berwarna-warni lagi!!!"
"Hmmpf!!!"
Mereka tidak tahu, bahwa kelak Yusuf akan menjadi penguasa. Dia tidak hanya penguasa mereka dalam mimpi, di rumah Bapak mereka atau pun di rumah tangga orang lain. Dia, Yusuf, adik mereka itu, bahkan akan menjadi penguasa di seluruh Mesir.
[2]
Dalam perjalanan di bis patas AC Mayasari Bakti No. 63 Senen - Bekasi, saya mendapat ide itu begitu saja. Gambar sketsa ini dibuat, mungkin ketika bis meninggalkan Senen sampai sebelum memasuki tol Rawamangun.
Saya akan membuat jubah yang dikenakan Yusuf berwarna-warni. Karena kata yang dipakai dalam teks Ibrani, jika diterjemahkan, adalah jubah warna-warni. Kata warna memakai bentuk jamak.
[3]
Non mortui laudabunt Dominum ...
17 September 2011
Dua belas orang biasa yang menjadi luar biasa ...
"Sebab di dalam Dia
kamu telah menjadi kaya dalam segala hal:
dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan,
sesuai dengan kesaksian tentang Kristus,
yang telah diteguhkan di antara kamu."
(I Korintus 1:5-6; Alkitab Terjemahan Baru, © 1974 LAI)
Mereka adalah dua belas orang murid Tuhan Yesus. Mereka sebenarnya orang-orang biasa yang nampaknya tidak memiliki kelebihan. Namun kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama tiga tahun telah membuat mereka menjadi orang-orang yang dipakai oleh Tuhan untuk menghadirkan kerajaan-Nya.
Di dalam Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit untuk keselamatan kita, kita pun telah menjadi orang-orang yang dipakai oleh Tuhan secara luar biasa.
Gambar di atas mulai dikerjakan ketika saya dalam perawatan di rumah sakit pada tahun 2009. Figur yang pertama digambar adalah Yohanes. Figur itu memiliki gaya penggambaran yang sedikit berbeda dari yang lain.
Dari figur Yohanes dikembangkan figur-figur lain yang muncul dari imajinasi saya. Simon Petrus dan Yudas Iskariot memiliki penggambaran yang saya buat lain dari pada yang lain, karena gambaran yang saya jumpai dalam cerita-cerita keempat Injil dan interpretasi kartunal saya. Toh, pada masa kini tidak ada yang tahu, bagaimana rupa mereka, keduabelas murid Yesus itu, kan? :)
Saya rasa saya dipengaruhi oleh Harajuku style dalam menggambarkan pakaian figur-figur mereka. Lekukan di telapak kaki mereka, sejujurnya, dibuat setelah melihat gambar-gambar Skottie Young ... :)
Non mortui laudabunt Dominum ...
21 April 2011
Kamis Putih ... satu dari misteri-misteri hari Kamis
Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan;
Ia berkata:
"Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku,
ada bersama dengan Aku di meja ini.
Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan,
akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!"
(Lukas 22:20-22; TB, © LAI 1974)
Hari ini, pada saat saya menulis blog ini, adalah hari Kamis yang dikenal oleh banyak warga gereja sebagai Holy Thursday, Covenant Thursday, Thursday of Misteries, Great & Holy Thursday atau pun Maundy Thursday. Di Indonesia cukup dikenal dengan nama Kamis Putih. Semuanya adalah nama untuk perayaan yang memeringati saat-saat ketika Yesus akan disalibkan; dalam rangka menyambut Jumat Agung.
Dalam rangka peringatan perayaan tersebut, saya mengunggah gambar ini.
Gambar ini dibuat ketika saya menjalankan masa vikariat di GPIB Jemaat Petrus Jakarta pada tahun 2000-2001. Saya tidak ingat, kapan gambar ini dibuat. Mungkin di sekitar pelaksanaan perjamuan kudus di jemaat tersebut.
Pada waktu itu, mentor saya, Pdt. Mozes J.A. Mailoa, Sm.Th memberi kritik, dengan senyumannya yang khas, terhadap figur yang ada di sebelah kiri, yang menurut beliau terlalu muda. Saya cuma tersenyum. Namun saya memang membuatnya sangat muda. Itu adalah gambaran tentang orang-orang muda.
Saat ini, ketika saya menulis di blog ini, menurut saya, figur itu mewakili banyak generasi muda di gereja-gereja masa kini yang belum siap dengan tantangan iman yang harus mereka hadapi.
Kepada beberapa orang yang melihat gambar ini, sering kali saya berikan pertanyaan yang sederhana; "Apakah Anda bisa menduga, di mana Simon Petrus, Yohanes dan Yudas Iskariot, bahkan Tomas?"
Keempat figur tersebut memang dibuat secara khusus dalam gambar ini. Keempatnya digambar berdasarkan beberapa ayat dalam keempat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Posisi salah satu figur memang tidak seperti yang digambarkan oleh Alkitab, namun gambar di atas adalah interpretasi saya dan rekonstruksi atas interpretasi itu.
Salah satu figur, yang berada nomor dua di sebelah kiri figur Yesus, dibuat dengan 'dandanan' yang terinspirasi dari Brett Michaels (vokalis Poison) atau Axl Rose (vokalis Guns N' Roses). Sampai sekarang saya tidak bisa menentukan, figur siapakah ini? Namun sering kali saya berpikir, dia seharusnya adalah Andreas. Anda tidak usah bertanya, kenapa saya berpikir demikian. Karena hal itu terlintas begitu saja.
Gambar ini dibuat di atas kertas yang sebenarnya digunakan untuk membuat sketsa dengan pensil. Setelah dibuat sketsanya, saya melanjutkan dengan penintaan. Penintaan memakai pena rapido: Rotring dengan mata pena 0.1, 0.3, 0.5 dan 0.7.
Sekarang, pertanyaannya, Anda bisa menduga di mana Simon Petrus, Tomas, Yohanes dan Yudas Iskariot?
Non mortui laudabunt Dominum ...
Subscribe to:
Posts (Atom)






