Menurut saya, tengkorak dan tulang belulang mengingatkan pada kematian. Bahkan tengkorak dan tulang belulang mengingatkan juga pada kefanaan manusia. Yehezkiel mengalami sendiri pemahaman tersebut, ketika dalam salah satu penglihatan, Tuhan membawanya ke lembah yang dipenuhi tulang belulang (Yehezkiel 37).
Yang membuat saya tertarik adalah ketika tengkorak dihubungkan dengan setan atau hal-hal yang berhubungan dengan okultisme. Akibatnya, ada pandangan yang - menurut saya - sempit, bahwa gambar tengkorak itu dikaitkan dengan pemujaan kepada iblis dan setan, penyembahan kejahatan dan peminat kekerasan. Singkatnya, tengkorak itu harus dijauhi.
Mungkin karena kematian itu dihubungkan dengan kegelapan, lalu iblis dan setan itu adalah penguasa kegelapan. Setelah itu, dengan mudahnya kematian dan tengkorak disodorkan garis yang menghubungkan mereka pada iblis dan setan.
Ini hanya sekedar lintasan pikiran yang mengembara saja. Namun pikiran yang asal lewat itu turut memengaruhi pilihan obyek gambar kali ini; tengkorak dan asap yang mengembara. Gambar ini sendiri pun dibuat untuk mengisi waktu saja. Mata susah diajak kompromi. Maunya melek terus.
Akhirnya, sekali lagi, tulisan ini cuma sekedar lintasan pikiran. Yang penting, kiranya tidak mengganggu seperti kabut asap yang mengganggu di beberapa tempat yang disebabkan pembakaran liar.
As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.
Psalms 103:15-16; KJV
Showing posts with label pemahaman. Show all posts
Showing posts with label pemahaman. Show all posts
24 September 2015
01 February 2014
Makan atau tidak, ... pemahamannya bagaimana?
[1.]
Salah satu persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Korintus adalah apakah makanan sesajian untuk para dewa dapat dimakan?
Bagi beberapa orang yang menyebut diri telah berpengetahuan, makanan tersebut dapat dimakan. Makanan itu tidak memiliki makna apa pun bagi mereka selain sebagai makanan saja; "kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan" (I Korintus 8:8). Namun bagi mereka yang masih lemah iman, makanan tersebut masih tetap dimaknai sebagai makanan sesajian. Mereka ini tidak bisa lepas dari tradisi atau kebiasaan.
Masalahnya, ketika mereka yang lemah iman melihat orang yang berpengetahuan itu memakan sesajian tersebut, maka mereka seperti mendapat pengesahan untuk tetap makan tanpa harus melepaskan diri dari pemahaman yang seharusnya ditolak itu. Paulus mengistilahkannya dengan batu sandungan.
[2.]
Gagasan semula gambarnya adalah pertentangan antara makan atau tidak; antara menuruti pemahaman iman atau menuruti keinginan indrawi. Namun masalah sebenarnya dalam I Korintus 8:1-13 adalah masalah pemahaman iman yang kuat dengan kelemahan iman. Paulus melihat makanan sesajian ini memberi sandungan bagi yang lemah dan membawa kesombongan bagi yang merasa memiliki pengetahuan.
Saya mendapat beberapa ide gambar; mulai dari gaya kartun sampai dengan model doodle. Pada akhirnya saya memilih gambar di atas yang merupakan campuran beberapa ide.
Pemuda ini gambaran dari orang-orang yang disebut Paulus berpengetahuan. Dia tidak memandang makanan di hadapannya sebagai makanan yang menjadi ritual apa pun. Dia menutup mata tentang makna yang ada di sekitar makanan itu. Dia melihat dengan mata terbuka sebagai makanan saja.
Dia menutup mata kiri sebagai penolakan pemahaman. Ini berhubungan dengan fungsi otak kiri manusia yang berhubungan dengan logika dan penalaran. Mata kanannya yang terbuka menatap piring itu mengingatkan pada fungsi otak kanan yang mengapresiasi setiap kenikmatan.
Bagi pemuda ini pertentangan antara makan atau tidak makan sudah tidak ada lagi, karena dia telah merubah pemahamannya menurut imannya.
[3.]
Saya menikmati proses menggambarnya. Lagu Van Halen, seperti Can't Stop Loving You dan Why Can't This Be Love membantu kenikmatannya bersama udara malam.
"You can change your mind, we can change the things we say and do anytime ..." (Van Halen; Can't Stop Loving You)
24 May 2013
Simbol kesatuan penyataan tindakan kasih Tuhan ...
"Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus,
dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus
menyertai kamu sekalian."
(II Korintus 13:13; Alkitab Terjemahan Baru; © 1974 LAI)
[1.]
Hari Minggu pertama sesudah perayaan Pentakosta dinamakan Gereja sebagai Hari Minggu Trinitas.
Pada
hari Minggu Trinitas Gereja merayakan tindakan kasih dari Allah yang dinyatakan
dalam kehadiran-Nya sebagai Bapa, Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus bagi
setiap orang percaya.
Penetapan
hari Minggu Trinitas sebagai sebuah perayaan berkaitan dengan kehadiran pemahaman sesat
dari Arius, seorang uskup dari Alexandria, Mesir. Pemahaman yang berkembang pada awal
abad keempat tersebut tidak mengakui kesatuan hakekat antara Yesus Kristus dan
Allah Bapa.
Pada awalnya perayaan ini tidak dilakukan secara serentak. Beberapa gereja merayakan secara teratur, sementara beberapa lagi tidak merayakannya. Ada yang merayakan pada hari Minggu sesudah Pentakosta. Ada juga yang merayakan pada hari Minggu sebelum perayaan Advent.
Pada awalnya perayaan ini tidak dilakukan secara serentak. Beberapa gereja merayakan secara teratur, sementara beberapa lagi tidak merayakannya. Ada yang merayakan pada hari Minggu sesudah Pentakosta. Ada juga yang merayakan pada hari Minggu sebelum perayaan Advent.
Hari
Minggu Trinitas diresmikan sebagai perayaan di seluruh Gereja Katholik Roma
oleh Paus Yohanes XXII (1316-1334). Perayaannya jatuh pada hari Minggu pertama
setelah hari Minggu Pentakosta. Sementara gereja-gereja Orthodox tetap pada saat Minggu Pentakosta.
Gereja-gereja
reformasi seperti Lutheran dan Calvinis yang berakar dari Gereja Katholik Roma
meneruskan perayaan tersebut dalam kalender liturgi gereja.
[2.]
Triquetra adalah simbol yang digunakan pada hari Minggu Trinitas. Kata triquetra berasal dari bahasa Latin, tri (tiga) dan quetrus (sudut). Triquetra menggambarkan kesatuan yang tidak terputus di antara Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Triquetra adalah simbol yang digunakan pada hari Minggu Trinitas. Kata triquetra berasal dari bahasa Latin, tri (tiga) dan quetrus (sudut). Triquetra menggambarkan kesatuan yang tidak terputus di antara Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Sebenarnya
triquetra merupakan simbol yang sangat tua, lebih tua dari kekristenan itu
sendiri. Simbol ini dihubungkan dengan Valknut, simbol yang berhubungan dengan
dewa Odin. Namun tidak sedikit yang menghubungkan triquetra dengan seni insular
dari Celtic.
Saya
mencoba menggambarkan kembali triquetra menurut refleksi saya atas pemahaman
Trinitas yang saya jumpai di antara warga jemaat. Saya sengaja menonjolkan kesannya sebagai materi organik.
Warna putih yang menjadi dasar adalah warna yang lazim digunakan oleh gereja-gereja dalam merayakan Trinitas. Warna merah triquetra diambil dari penjabaran simbol triquetra sebagaimana yang digunakan oleh Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).
Warna putih yang menjadi dasar adalah warna yang lazim digunakan oleh gereja-gereja dalam merayakan Trinitas. Warna merah triquetra diambil dari penjabaran simbol triquetra sebagaimana yang digunakan oleh Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).
[3.]
Ngomong-ngomong, triquetra juga dipakai oleh John Paul Jones, bassis Led Zeppelin, dalam album Led Zeppelin IV. Bagi Jones itu adalah reprentasi dari seseorang yang memiliki keyakinan dan semangat kompetensi. Jones dapat simbol itu bukan dari ruang ibadah gereja, melainkan dari buku Rudolf Koch, "Book of Signs: 493 symbols used from earliest times to the middle ages by primitive peoples and early christians".
"It's been a long time since the book of love,
I can't count the tears of a life with no love.
Carry me back, carry me back, ..."
(Rock And Roll, Led Zeppelin, 1971)
Non mortui laudabunt Dominum
25 November 2012
Tujuh kaki dian, tujuh bintang, ...
"Inilah firman dari Dia,
yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya
dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu ...
Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."
(Wahyu 2:1,4; Alkitab Terjemahan Baru; © 1974 LAI)
Ketika ibadah kita sebagai tindakan ritual tidak berlanjut dengan ibadah kita sebagai tindakan yang aktual, maka Tuhan pun akan mencela kita seperti yang dilakukan-Nya kepada jemaat di Efesus.
Apalah artinya kehebatan mempertahankan ortodoksi, bila tidak mengasihi sesama sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan?
Non mortui laudabunt Dominum
- Tujuh kaki dian dan tujuh bintang; technical pen di buku Moleskine®
31 October 2012
Halloween, Reformasi dan GPIB ...
Setiap tanggal 31 Oktober
di beberapa tempat di dunia ini dilaksanakan perayaan Halloween. Perayaan
Halloween atau All Hallow's
Evening dapat dikaitkan
dengan beberapa perayaan pagan.
Ada yang
menghubungkan dengan perayaan orang-orang Romawi untuk menghormati Dewi Pomona,
dewi buah-buahan dan benih. Ada juga yang menghubungkan dengan penghormatan
kepada nenek moyang keluarga. Namun banyak yang mengaitkan Halloween dengan
festival Samhain yang dilaksanakan oleh
orang-orang Gaelik (Irlandia dan Skotlandia). Samhain adalah perayaan menyambut
musim dingin. Perayaan Halloween kemudian dikaitkan juga dengan perayaan
gerejawi, Hari Semua Orang Kudus (All Saints Day - Festum
Omnium Sanctorum). Baik gereja timur maupun gereja barat merayakan Hari
Semua Orang Kudus. Semula dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah hari
Pentakosta. Tahun 609 Gereja merayakan pada tanggal 13 Mei. Namun pada tahun
835 Paus Gregorius 5 memindahkan Hari Semua Orang Kudus menjadi tanggal 1
November , bersamaan dengan perayaan Samhain, dan dilanjutkan dengan Hari
Peringatan Semua Orang Beriman (All Souls Day).
Sekarang
Halloween telah berkembang menjadi perayaan yang diwarnai dengan kostum-kostum
yang mengingatkan pada hal-hal yang menyeramkan. Hollywood turut membantu
perkembangan (pergeseran) Halloween seperti sekarang ini. Sekarang Halloween
tidak hanya dihiasi dengan Jack O'Lantern serta buah-buah labu dan apel sisa
musim panas. Kita bisa menjumpai Dracula-nya Bela Lugosi, Frankenstein-nya
Boris Karloff, bahkan sampai topeng putih berjubah hitam dari Scream-nya Kevin
Williamson dan Wes Craven serta Darth Vader dan Darth Maul-nya George Lucas.
Belum lagi Mike Myers, si penjagal bertopeng kertas putih.
-----
Bagi saya, peringatan
31 Oktober tidak pada Halloween - yang memang bukan hari raya di Indonesia -,
melainkan lebih mengingatkan saya pada dua hal.
Pertama,
mengingatkan pada tindakan Marthin Luther yang menempelkan ke-95 dalilnya di
pintu gereja Wittenberg pada tahun 1517. Kita merayakan sebagai Hari
Reformasi.
Kedua,
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat menjadi gereja yang mandiri dalam
Gereja Protestan Indonesia pada tahun 1948.
-----
Saya suka
dengan boneka putih dari sapu tangan atau kertas putih yang diberi gumpalan
kertas atau kapas sebagai kepalanya. Saya baru tahu setelah gambar di atas
selesai dibuat, kalau di Jepang boneka itu bernama Teru Teru Bōzu. Jika di gantung dia akan menjadi boneka memohon hari cerah,
sedangkan jika digantung terbalik, dia menjadi boneka memohon hujan. Teru Teru
Bōzu tidak boleh digantung terbalik.
Ketertarikan
saya pada karakter Si Kain Putih Botak dimulai ketika saya iseng menggambarnya
dalam sebuah rapat beberapa tahun lalu.
Sekarang Si
Kain Putih Botak diberi dandanan berupa topi top hat.
Saya memang
menyiapkan gambar di atas untuk Halloween. Tahun 2011 lalu, saya menggambar
untuk blog ini dalam rangka HUT GPIB ke-63.
-----
Non mortui laudabunt Dominum
- Si Kain Putih Botak dan Halloween; Technical pen di buku Moleskine®
Subscribe to:
Posts (Atom)



