As for man, his days are as grass: as a flower of the field, so he flourisheth.
For the wind passeth over it, and it is gone; and the place thereof shall know it no more.

Psalms 103:15-16; KJV

Showing posts with label pemahaman. Show all posts
Showing posts with label pemahaman. Show all posts

24 September 2015

Menggambar tengkorak berarti satanis ...?

Menurut saya, tengkorak dan tulang belulang mengingatkan pada kematian. Bahkan tengkorak dan tulang belulang mengingatkan juga pada kefanaan manusia. Yehezkiel mengalami sendiri pemahaman tersebut, ketika dalam salah satu penglihatan, Tuhan membawanya ke lembah yang dipenuhi tulang belulang (Yehezkiel 37).

Yang membuat saya tertarik adalah ketika tengkorak dihubungkan dengan setan atau hal-hal yang berhubungan dengan okultisme. Akibatnya, ada pandangan yang - menurut saya - sempit, bahwa gambar tengkorak itu dikaitkan dengan pemujaan kepada iblis dan setan, penyembahan kejahatan dan peminat kekerasan. Singkatnya, tengkorak itu harus dijauhi.
Mungkin karena kematian itu dihubungkan dengan kegelapan, lalu iblis dan setan itu adalah penguasa kegelapan. Setelah itu, dengan mudahnya kematian dan tengkorak disodorkan garis yang menghubungkan mereka pada iblis dan setan.

Ini hanya sekedar lintasan pikiran yang mengembara saja. Namun pikiran yang asal lewat itu turut memengaruhi pilihan obyek gambar kali ini; tengkorak dan asap yang mengembara. Gambar ini sendiri pun dibuat untuk mengisi waktu saja. Mata susah diajak kompromi. Maunya melek terus.

Akhirnya, sekali lagi, tulisan ini cuma sekedar lintasan pikiran. Yang penting, kiranya tidak mengganggu seperti kabut asap yang mengganggu di beberapa tempat yang disebabkan pembakaran liar.

01 February 2014

Makan atau tidak, ... pemahamannya bagaimana?


"Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu  sandungan bagi mereka yang lemah." (I Korintus 8:9)

[1.]

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Korintus adalah apakah makanan sesajian untuk para dewa dapat dimakan?

Bagi beberapa orang yang menyebut diri telah berpengetahuan, makanan tersebut dapat dimakan. Makanan itu tidak memiliki makna apa pun bagi mereka selain sebagai makanan saja; "kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan" (I Korintus 8:8). Namun bagi mereka yang masih lemah iman, makanan tersebut masih tetap dimaknai sebagai makanan sesajian. Mereka ini tidak bisa lepas dari tradisi atau kebiasaan. 

Masalahnya, ketika mereka yang lemah iman melihat orang yang berpengetahuan itu memakan sesajian tersebut, maka mereka seperti mendapat pengesahan untuk tetap makan tanpa harus melepaskan diri dari pemahaman yang seharusnya ditolak itu. Paulus mengistilahkannya dengan batu sandungan.

[2.]

Gagasan semula gambarnya adalah pertentangan antara makan atau tidak; antara menuruti pemahaman iman atau menuruti keinginan indrawi. Namun masalah sebenarnya dalam I Korintus 8:1-13 adalah masalah pemahaman iman yang kuat dengan kelemahan iman. Paulus melihat makanan sesajian ini memberi sandungan bagi yang lemah dan membawa kesombongan bagi yang merasa memiliki pengetahuan. 

Saya mendapat beberapa ide gambar; mulai dari gaya kartun sampai dengan model doodle. Pada akhirnya saya memilih gambar di atas yang merupakan campuran beberapa ide.

Pemuda ini gambaran dari orang-orang yang disebut Paulus berpengetahuan. Dia tidak memandang makanan di hadapannya sebagai makanan yang menjadi ritual apa pun. Dia menutup mata tentang makna yang ada di sekitar makanan itu. Dia melihat dengan mata terbuka sebagai makanan saja. 

Dia menutup mata kiri sebagai penolakan pemahaman. Ini berhubungan dengan fungsi otak kiri manusia yang berhubungan dengan logika dan penalaran. Mata kanannya yang terbuka menatap piring itu mengingatkan pada fungsi otak kanan yang mengapresiasi setiap kenikmatan.

Bagi pemuda ini pertentangan antara makan atau tidak makan sudah tidak ada lagi, karena dia telah merubah pemahamannya menurut imannya. 

[3.]

Saya menikmati proses menggambarnya. Lagu Van Halen, seperti Can't Stop Loving You dan Why Can't This Be Love membantu kenikmatannya bersama udara malam.

"You can change your mind, we can change the things we say and do anytime ..." (Van Halen; Can't Stop Loving You)



24 May 2013

Simbol kesatuan penyataan tindakan kasih Tuhan ...



"Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, 
dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus 
menyertai kamu sekalian." 
(II Korintus 13:13; Alkitab Terjemahan Baru; © 1974 LAI) 

[1.]

Hari Minggu pertama sesudah perayaan Pentakosta dinamakan Gereja sebagai Hari Minggu Trinitas.

Pada hari Minggu Trinitas Gereja merayakan tindakan kasih dari Allah yang dinyatakan dalam kehadiran-Nya sebagai Bapa, Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus bagi setiap orang percaya.

Penetapan hari Minggu Trinitas sebagai sebuah perayaan berkaitan dengan kehadiran pemahaman sesat dari Arius, seorang uskup dari Alexandria, Mesir. Pemahaman yang berkembang pada awal abad keempat tersebut tidak mengakui kesatuan hakekat antara Yesus Kristus dan Allah Bapa. 

Pada awalnya perayaan ini tidak dilakukan secara serentak. Beberapa gereja  merayakan secara teratur, sementara beberapa lagi tidak merayakannya. Ada yang merayakan pada hari Minggu sesudah Pentakosta. Ada juga yang merayakan pada hari Minggu sebelum perayaan Advent. 

Hari Minggu Trinitas diresmikan sebagai perayaan di seluruh Gereja Katholik Roma oleh Paus Yohanes XXII (1316-1334). Perayaannya jatuh pada hari Minggu pertama setelah hari Minggu Pentakosta. Sementara gereja-gereja Orthodox tetap pada saat Minggu Pentakosta.

Gereja-gereja reformasi seperti Lutheran dan Calvinis yang berakar dari Gereja Katholik Roma meneruskan perayaan tersebut dalam kalender liturgi gereja.

[2.]

Triquetra adalah simbol yang digunakan pada hari Minggu Trinitas. Kata triquetra berasal dari bahasa Latin, tri (tiga) dan quetrus (sudut). Triquetra menggambarkan kesatuan yang tidak terputus di antara Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Sebenarnya triquetra merupakan simbol yang sangat tua, lebih tua dari kekristenan itu sendiri. Simbol ini dihubungkan dengan Valknut, simbol yang berhubungan dengan dewa Odin. Namun tidak sedikit yang menghubungkan triquetra dengan seni insular dari Celtic.

Saya mencoba menggambarkan kembali triquetra menurut refleksi saya atas pemahaman Trinitas yang saya jumpai di antara warga jemaat. Saya sengaja menonjolkan kesannya sebagai materi organik.

Warna putih yang menjadi dasar adalah warna yang lazim digunakan oleh gereja-gereja dalam merayakan Trinitas. Warna merah triquetra diambil dari penjabaran simbol triquetra sebagaimana yang digunakan oleh Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).

[3.]

Ngomong-ngomong, triquetra juga dipakai oleh John Paul Jones, bassis Led Zeppelin, dalam album Led Zeppelin IV. Bagi Jones itu adalah reprentasi dari seseorang yang memiliki keyakinan dan semangat kompetensi. Jones dapat simbol itu bukan dari ruang ibadah gereja, melainkan dari buku Rudolf Koch, "Book of Signs: 493 symbols used from earliest times to the middle ages by primitive peoples and early christians".

"It's been a long time since the book of love, 
I can't count the tears of a life with no love.
Carry me back, carry me back, ..."
(Rock And Roll, Led Zeppelin, 1971)

Non mortui laudabunt Dominum

25 November 2012

Tujuh kaki dian, tujuh bintang, ...


"Inilah firman dari Dia, 
yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya 
dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu ... 
Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." 
(Wahyu 2:1,4; Alkitab Terjemahan Baru; © 1974 LAI)

Ketika ibadah kita sebagai tindakan ritual tidak berlanjut dengan ibadah kita sebagai tindakan yang aktual, maka Tuhan pun akan mencela kita seperti yang dilakukan-Nya kepada jemaat di Efesus.

Apalah artinya kehebatan mempertahankan ortodoksi, bila tidak mengasihi sesama sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan?


Non mortui laudabunt Dominum

  • Tujuh kaki dian dan tujuh bintang; technical pen di buku Moleskine®






31 October 2012

Halloween, Reformasi dan GPIB ...




Setiap tanggal 31 Oktober di beberapa tempat di dunia ini dilaksanakan perayaan Halloween. Perayaan Halloween atau All Hallow's Evening dapat dikaitkan dengan beberapa perayaan pagan. 
Ada yang menghubungkan dengan perayaan orang-orang Romawi untuk menghormati Dewi Pomona, dewi buah-buahan dan benih. Ada juga yang menghubungkan dengan penghormatan kepada nenek moyang keluarga. Namun banyak yang mengaitkan Halloween dengan festival Samhain yang dilaksanakan oleh orang-orang Gaelik (Irlandia dan Skotlandia). Samhain adalah perayaan menyambut musim dingin. Perayaan Halloween kemudian dikaitkan juga dengan perayaan gerejawi, Hari Semua Orang Kudus (All Saints Day - Festum Omnium Sanctorum). Baik gereja timur maupun gereja barat merayakan Hari Semua Orang Kudus. Semula dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah hari Pentakosta. Tahun 609 Gereja merayakan pada tanggal 13 Mei. Namun pada tahun 835 Paus Gregorius 5 memindahkan Hari Semua Orang Kudus menjadi tanggal 1 November , bersamaan dengan perayaan Samhain, dan dilanjutkan dengan Hari Peringatan Semua Orang Beriman (All Souls Day). 
Sekarang Halloween telah berkembang menjadi perayaan yang diwarnai dengan kostum-kostum yang mengingatkan pada hal-hal yang menyeramkan. Hollywood turut membantu perkembangan (pergeseran) Halloween seperti sekarang ini. Sekarang Halloween tidak hanya dihiasi dengan Jack O'Lantern serta buah-buah labu dan apel sisa musim panas. Kita bisa menjumpai Dracula-nya Bela Lugosi, Frankenstein-nya Boris Karloff, bahkan sampai topeng putih berjubah hitam dari Scream-nya Kevin Williamson dan Wes Craven serta Darth Vader dan Darth Maul-nya George Lucas. Belum lagi Mike Myers, si penjagal bertopeng kertas putih.
-----
Bagi saya, peringatan 31 Oktober tidak pada Halloween - yang memang bukan hari raya di Indonesia -, melainkan lebih mengingatkan saya pada dua hal.
Pertama, mengingatkan pada tindakan Marthin Luther yang menempelkan ke-95 dalilnya di pintu gereja Wittenberg pada tahun 1517. Kita merayakan sebagai Hari Reformasi. 
Kedua, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat menjadi gereja yang mandiri dalam Gereja Protestan Indonesia pada tahun 1948.
-----
Saya suka dengan boneka putih dari sapu tangan atau kertas putih yang diberi gumpalan kertas atau kapas sebagai kepalanya. Saya baru tahu setelah gambar di atas selesai dibuat, kalau di Jepang boneka itu bernama Teru Teru Bōzu. Jika di gantung dia akan menjadi boneka memohon hari cerah, sedangkan jika digantung terbalik, dia menjadi boneka memohon hujan. Teru Teru Bōzu tidak boleh digantung terbalik.
Ketertarikan saya pada karakter Si Kain Putih Botak dimulai ketika saya iseng menggambarnya dalam sebuah rapat beberapa tahun lalu.
Sekarang Si Kain Putih Botak diberi dandanan berupa topi top hat.
Saya memang menyiapkan gambar di atas untuk Halloween. Tahun 2011 lalu, saya menggambar untuk blog ini dalam rangka HUT GPIB ke-63.
-----
Non mortui laudabunt Dominum
  • Si Kain Putih Botak dan Halloween; Technical pen di buku Moleskine®